Memuat...

2 bocah Pakistan ini menderita penyakit misterius yang kambuh jika matahari terbenam

Fath
Senin, 9 Mei 2016 / 3 Syakban 1437 13:30
2 bocah Pakistan ini menderita penyakit misterius yang kambuh jika matahari terbenam
ISLAMABAD, PAKISTAN - MAY 6: Two siblings Abdul Rasheed (L) and Shoaib Ahmed (R), continuing their daily life during day but collapse into a vegetative state, paralysed and unable to talk, at night, are seen at hospital in Islamabad, Pakistan on May 6, 2016. Reason and cure of illness can't be known. Doctors at a hospital in Islamabad carrying out medical tests to understand the reason behind the brothers' bizarre symptoms. ( Metin Aktas - Anadolu Agency )

ISLAMABAD (Arrahmah.com) - Dua bocah kakak-beradik di Pakistan menderita penyakit misterius yang kambuh ketika matahari terbenam.

Shoaib Ahmed dan Abdul Rashed, pada siang hari berperilaku normal seperti anak-anak pada umumnya. Namun, ketika matahari terbenam, mereka tiba-tiba tidak dapat berbicara, tidak merasa lapar atau haus, dan aktivitas otak mereka tampak berhenti.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Mohammed Hashim, ayah dari kedua bocah tersebut mengatakan, "Baterai mereka seakan mati setelah matahari terbenam."

"Anak-anak saya kehilangan semua indera dan kemampuan untuk melakukan apapun ketika matahari terbenam. Mereka tidak makan, minum, atau bahkan pergi ke kamar mandi. Lalu ketika matahari terbit, mereka kembali normal," kata Hashim.

Dari keenam anaknya, Hashim mengatakan, dua orang meninggal saat bayi, dan dua lainnya berada dalam kesehatan yang normal, tidak seperti dua anaknya tersebut yang hidupnya tergantung pada matahari.

Anak-anak Hashim, yang juga dikenal sebagai 'anak matahari' di Pakistan, tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit pemerintah di ibukota Islamabad.

Seorang pejabat rumah sakit mengatakan keadaan vegetatif kedua bocah tersebut dimulai secara bertahap pada saat matahari terbenam dan semakin parah ketika keadaan gelap total.

"Penyakit ini bahkan tidak memiliki nama," kata pejabat itu.

Kondisi tersebut membuat para dokter heran, dan mencoba untuk mencari tahu penyebab dan cara mengobatinya.

Tiga belas dokter yang berpengalaman dan 32 spesialis medis saat ini ditugaskan untuk menangani kedua bocah tersebut. Dua bocah tesebut juga telah diambil sampel darahnya dan dikirim ke luar negeri untuk dipelajari lebih lanjut.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Ilker Yilmaz, seorang nephrologist di Gulhane Militare Medical Academi di Turki (GATA) berspekulasi bahwa anak-anak tersebut kemungkinan menderita gangguan hormonal.

"Kasus seperti gangguan melatonin biasanya terlihat di negara-negara Nordik, di mana waktu siang hari memiliki jumlah yang terbatas dan para individu memiliki sedikit melatonin," katanya sebagaimana dilansir Anadolu Agency (7/5/2016). (fath/arrahmah.com)