KARACHI (Arrahmah.id) -- Massa Syiah di Karachi, Pakistan, menyerang Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) saat demonstrasi menentang serangan AS dan 'Israel' ke Iran. Tak kurang 9 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat bentrokan dengan pasukan keamanan di luar fasilitas diplomatik pada 1 Maret 2026. Aksi ini dipicu oleh kemarahan atas kematian Pemimpin Tertinggi Syiah Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS–'Israel' hari sebelumnya.
Dilansir AAJ TV (1/3/2026), ratusan pendukung Iran — banyak di antaranya dari komunitas Syiah lokal — berkumpul di Mai Kolachi Road di pusat Karachi dan mencoba memasuki kompleks konsulat, melempari batu dan merusak properti. Polisi dan pasukan paramiliter merespons dengan gas air mata dan upaya pembubaran paksa, yang kemudian berubah menjadi bentrokan keras antara demonstran dan aparat keamanan.
Menurut pihak berwenang setempat, awalnya enam orang tewas dibawa ke rumah sakit sebelum jumlah korban yang meninggal meningkat menjadi sembilan setelah beberapa yang luka parah meninggal dunia. Sedikitnya 12 orang lainnya luka-luka dalam insiden tersebut, dengan banyak korban mengalami tembakan dan benturan fisik selama kerusuhan itu.
Kerusuhan di Karachi merupakan bagian dari unjuk rasa pro-Iran yang lebih luas di Pakistan, termasuk di kota-kota seperti Lahore dan Islamabad, di mana kelompok Syiah menggelar aksi damai sambil mengecam keterlibatan AS dan Israel dalam konflik terbaru di Timur Tengah. Pemerintah Pakistan juga meningkatkan keamanan di kantor diplomatik AS dan konsulat lainnya di seluruh negeri untuk mencegah penyebaran kekerasan lebih lanjut.
Insiden ini mengikuti gelombang protes di negara-negara lain yang memiliki komunitas Muslim besar setelah serangan udara terhadap Iran. Misalnya, protes serupa pecah di Irak di dekat Kedutaan AS di Baghdad, meskipun tidak selalu berujung pada kerusuhan seperti di Karachi.
Reaksi internasional terhadap bentrokan di Pakistan termasuk seruan untuk penahanan diri dan penyelesaian damai dari berbagai organisasi hak asasi dan pernyataan diplomatik sekutu AS yang mendesak agar demonstrasi dilakukan secara damai meskipun kritik terhadap kebijakan luar negeri merupakan hak rakyat. (hanoum/arrahmah.id)
