Memuat...

Analisis Pakar: Serangan Udara AS ke Iran Hanya Mampu Bertahan Maksimal 6 Pekan

Zarah Amala
Selasa, 24 Februari 2026 / 7 Ramadan 1447 12:09
Analisis Pakar: Serangan Udara AS ke Iran Hanya Mampu Bertahan Maksimal 6 Pekan
Para analis sedang memperdebatkan apakah serangan tersebut akan terbatas, mampu menyebabkan perubahan internal yang besar, atau berlangsung selama beberapa pekan, dan apa dampak akhirnya. [Getty]

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Para pakar militer mempertanyakan keberlanjutan dan efektivitas strategi Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman serangan udara terhadap Iran untuk memaksakan kesepakatan nuklir atau perubahan rezim (regime change). Jason Campbell, pakar keamanan Timur Tengah dari Middle East Institute, menilai bahwa AS hanya mampu mempertahankan kampanye udara intensif selama empat hingga enam pekan, namun tidak untuk jangka waktu berbulan-bulan.

Menurut Campbell, meski AS dapat mengerahkan dua gugus tugas kapal induk dan jet tempur untuk melancarkan kerusakan signifikan dalam hitungan hari, operasi jangka panjang akan terbentur masalah pasokan ulang (resupply) yang masif. Ia juga memperingatkan bahwa strategi pengeboman berkelanjutan untuk menjatuhkan rezim sering kali gagal secara historis, merujuk pada kegagalan kampanye Rolling Thunder di era Perang Vietnam yang tidak mampu mencapai tujuan politik meskipun berlangsung selama tiga tahun.

Salah satu faktor krusial yang membatasi opsi militer AS dan 'Israel' adalah menipisnya stok pertahanan udara pasca-perang 12 hari pada Juni 2025. Laporan menunjukkan bahwa pengisian kembali rudal pencegat seperti Patriot, THAAD, dan sistem pertahanan 'Israel' tidak sebanding dengan kecepatan konsumsinya selama konflik.

AS menggunakan sekitar 100 rudal THAAD selama perang tahun lalu, sementara pengiriman rudal baru hanya berjumlah belasan di tahun 2025.

Sementara Iran, meski kehilangan setengah dari platform peluncurnya, Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 1.000 rudal balistik yang siap diluncurkan sebagai balasan.

Campbell menilai adanya ketidakjelasan strategis dalam pemerintahan Trump saat ini. Di satu sisi, Washington fokus pada jalur diplomasi nuklir, namun di sisi lain terdapat diskusi mengenai serangan terbatas untuk menekan Tehran. Sementara itu, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dilaporkan lebih menyukai serangan militer terhadap fasilitas rudal dan pertahanan udara Iran daripada kesepakatan diplomatik apa pun.

Para analis memperingatkan bahwa serangan udara saja sulit untuk mencapai tujuan politik yang kompleks di negara berpenduduk 90 juta jiwa tersebut. Keberlanjutan serangan akan sangat bergantung pada seberapa cepat Iran memulihkan kemampuan serangan baliknya dan seberapa besar risiko yang siap ditanggung AS serta 'Israel' terhadap ketidakpastian dampak politik di kawasan. (zarahamala/arrahmah.id)