Memuat...

AS Konfirmasi 3 Tentara Tewas dalam Operasi Militer Iran

Hanoum
Senin, 2 Maret 2026 / 13 Ramadan 1447 03:54
AS Konfirmasi 3 Tentara Tewas dalam Operasi Militer Iran
Tiga tentara AS tewas dalam serangan pesawat tak berawak pada hari Minggu di Yordania. Dari kiri ke kanan, Sersan William Rivers, Spesialis Breonna Moffett, dan Spesialis Kennedy Sanders. [Foto: Fox News]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Militer Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa tiga anggota dinasnya tewas dan lima lainnya luka serius dalam operasi militer terhadap Iran, menandai korban pertama pasukan AS sejak konflik militer yang kini melibatkan serangan udara Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan oleh U.S. Central Command (CENTCOM) pada Ahad (1/3/2026).

Menurut pernyataan resmi militer AS, seperti dilansir Reuters (1/3), ketiga tentara itu tewas dalam pertempuran sebagai bagian dari Operation Epic Fury — kampanye militer yang diluncurkan dalam beberapa hari terakhir untuk menekan kemampuan militer dan ancaman strategis Iran — sementara lima lainnya serius terluka dan sejumlah personel lain mengalami cedera ringan akibat serpihan dan gegar otak. CENTCOM juga menyatakan bahwa operasi masih berlanjut dan rincian lebih lanjut akan dirilis setelah keluarga korban diberi tahu.

Militer AS mengatakan korban ini merupakan first combat casualties (korban tempur pertama) dalam konflik yang terjadi setelah penargetan fasilitas militer dan komando Iran oleh pasukan gabungan AS–Israel, termasuk serangan udara besar pada akhir Februari yang oleh pejabat AS disebut sebagai upaya untuk “melindungi rakyat Amerika” dari ancaman segera oleh rezim Iran.

Serangan dan balasan dari Iran sendiri telah menyebabkan eskalasi konflik yang lebih luas di wilayah Timur Tengah, dengan laporan tentang serangan militer Iran terhadap pangkalan militer dan sekutu AS di beberapa negara Teluk serta serangan rudal yang dikecam oleh Washington sebagai ancaman langsung terhadap pasukan dan kepentingan AS di kawasan.

Reaksi domestik di Amerika Serikat terhadap pengakuan resmi korban tempur ini muncul di tengah protes publik dan diskusi tentang arah kebijakan luar negeri AS, termasuk apakah operasi militer semacam ini memperluas peran negara dalam konflik yang berbahaya di luar wilayahnya (hanoum/arrahmah.id)