GAZA (Arrahmah.id) - Gelombang hujan deras yang disertai penurunan suhu ekstrem melanda Jalur Gaza sepanjang Selasa (24/2/2026), mengubah kamp pengungsian menjadi lautan lumpur dan air. Ribuan keluarga pengungsi terpaksa meninggalkan tenda mereka yang terendam banjir, sementara banyak yang menghabiskan waktu semalam suntuk berupaya menyelamatkan sisa harta benda mereka.
Laporan dari Al-Jazeera dan Quds News Network menyebutkan bahwa kerusakan parah terjadi di Nuseirat, lingkungan Zaytoun, hingga area Al-Mawasi di Khan Yunis. Tenda-tenda pengungsian yang rapuh ambruk diterjang angin dan air, memaksa warga menggali saluran air darurat di pasir guna mencegah banjir masuk ke dalam tenda. Banyak keluarga dilaporkan tidak sempat menyantap sahur karena harus terus-menerus menahan struktur tenda agar tidak roboh.
Hujan membanjiri tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan (AFP)
Banjir ini menyoroti kerapuhan kondisi warga Gaza yang kini tinggal di tenda-tenda tanpa perlindungan memadai dari cuaca buruk. Investigasi dari kelompok hak asasi manusia 'Israel', B’Tselem, mencatat bahwa krisis ini bukan sekadar dampak cuaca, melainkan diperparah oleh kehancuran sistem drainase dan jaringan listrik akibat perang.
Data B’Tselem menunjukkan dampak fatal dari fenomena serupa sebelumnya. Sebanyak 39 warga Palestina, termasuk 22 anak-anak, dilaporkan meninggal dunia akibat badai musim dingin pada Desember 2025 dan Januari 2026. Kematian terjadi karena rusaknya infrastruktur sipil yang seharusnya menjadi pelindung, sehingga keluarga pengungsi tidak memiliki akses terhadap penghangat ruangan, insulasi, maupun sistem drainase yang layak.
Seorang pria Palestina mencoba memompa air dari jalan dekat sebuah kamp di Gaza setelah hujan lebat melanda Jalur Gaza pada Selasa, 24 Februari 2026 (Reuters)
Tim Pertahanan Sipil Gaza dan tim munisipalitas terus menerima puluhan panggilan darurat sepanjang malam, namun upaya evakuasi dan penyelamatan sangat terhambat oleh sumber daya yang sangat terbatas. Di Al-Mawasi, kru penyelamat berhasil mengevakuasi sejumlah keluarga yang terjebak banjir, namun cakupan wilayah yang terdampak jauh melampaui kapasitas tanggap darurat yang tersisa.
Hingga pagi ini, banyak jalur antartenda di kamp-kamp pengungsian dilaporkan tidak dapat dilalui karena genangan air yang dalam dan endapan lumpur tebal, menciptakan kondisi kemanusiaan yang semakin kritis di tengah musim dingin yang masih berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)
