Memuat...

Indonesia Menerima Jenazah Pasukan Penjaga Perdamaian yang Tewas di Lebanon Selatan

Hanin Mazaya
Ahad, 5 April 2026 / 17 Syawal 1447 14:43
Indonesia Menerima Jenazah Pasukan Penjaga Perdamaian yang Tewas di Lebanon Selatan
Presiden Prabowo Subianto (kanan) memberi hormat kepada peti jenazah tentara Indonesia yang gugur saat bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang pada 4 April 2026. Indonesia menerima jenazah tiga pasukan penjaga perdamaian pada 4 April yang gugur saat bertugas di Lebanon dan menyerukan jaminan keamanan bagi pasukan penjaga perdamaian sehari setelah tiga tentara lainnya terluka. (Foto: AFP/Yasuyoshi Chiba)

JAKARTA (Arrahmah.id) - Indonesia telah menerima jenazah tiga pasukan penjaga perdamaian PBB yang tewas di Lebanon selatan selama invasi "Israel" ke negara itu, di tengah perang Amerika Serikat-Israel yang sedang berlangsung melawan Iran.

Peti jenazah para prajurit yang tewas tiba di Indonesia pada Sabtu. Peti jenazah tersebut diusung oleh petugas berseragam dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto.

Setelah upacara tersebut, Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kepada wartawan bahwa Indonesia menginginkan penyelidikan PBB yang menyeluruh atas kematian para penjaga perdamaian yang merupakan bagian dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), lansir Al Jazeera (4/4/2026).

“Ini adalah misi penjaga perdamaian. Insiden seperti ini seharusnya tidak terjadi,” kata menteri kepada wartawan di bandara.

“Harus ada jaminan keamanan bagi para prajurit penjaga perdamaian,” tambahnya.

Pekan lalu, penjaga perdamaian Farizal Rhomadhon (28), tewas setelah sebuah proyektil meledak. Sebuah sumber keamanan PBB mengatakan kepada kantor berita AFP secara anonim pada Selasa bahwa tembakan dari tank "Israel" bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sehari kemudian, dua lagi pasukan penjaga perdamaian Indonesia, Zulmi Aditya Iskandar (33), dan Muhammad Nur Ichwan (26), tewas setelah sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di Lebanon selatan.

Ayah Iskandar mengatakan ia terkejut bahwa pasukan penjaga perdamaian kehilangan nyawa mereka dalam konflik tersebut.

“Kami sangat sedih dan menyesal, karena ini adalah pasukan PBB, pasukan penjaga perdamaian, bukan dikerahkan untuk perang,” kata Iskandarudin (60), kepada wartawan di rumahnya di provinsi Jawa Barat.

Ketiga pria tersebut akan dimakamkan hari ini, dan pemerintah telah menjanjikan dukungan keuangan untuk keluarga mereka.

Pada Jumat, UNIFIL mengumumkan bahwa tiga pasukan penjaga perdamaian terluka setelah ledakan di fasilitas PBB dekat Adeisse dan telah dibawa ke rumah sakit.

Pusat informasi PBB di Jakarta mengatakan bahwa "asal ledakan" tidak diketahui, tetapi mengidentifikasi tentara yang terluka sebagai warga negara Indonesia.

"Serangan atau insiden berulang seperti ini tidak dapat diterima," kata Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah mendesak Dewan Keamanan PBB "untuk segera mengadakan pertemuan negara-negara penyumbang pasukan ke UNIFIL untuk melakukan peninjauan dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perlindungan personel yang bertugas di UNIFIL".

Perang AS-Israel di Iran meluas ke Lebanon setelah Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menembakkan roket ke "Israel", menyusul pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang pada 28 Februari.

"Israel" telah membombardir negara itu selama berminggu-minggu dan melancarkan invasi, dengan para pejabat "Israel" mengatakan misi tersebut bermaksud untuk mendirikan zona keamanan yang membentang sejauh 30 km dari perbatasan "Israel". (haninmazaya/arrahmah.id)