Memuat...

Ironis! Anggaran pendidikan terus naik, tapi kualitas moral terus tererosi

Rasul Arasy
Ahad, 19 Juni 2011 / 18 Rajab 1432 13:33
Ironis! Anggaran pendidikan terus naik, tapi kualitas moral terus tererosi
Ironis! Anggaran pendidikan terus naik, tapi kualitas moral terus tererosi

GORONTALO (Arrahmah.com) – Seorang sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabtu (18/6/2011), menilai bahwa peningkatan anggaran sebesar 20 persen dalam sektor pendidikan  belum bisa memperbaiki kualitas pendidikan terutama yang mengarah pada perbaikan moral.

Funco Tanipu juga mengungkapkan  anggaran sebesar apapun tidak akan signifikan memperbaiki pendidikan, selama ukuran yang digunakan masih bersifat kuantitatif.

Ia menjelaskan yang dimaksud dalam ukuran tersebut misalnya, hanya didasarkan pada seberapa banyak sekolah yang dibangun, berapa laboratorium yang didirikan, berapa jumlah guru yang telah disertifikasi atau disarjanakan, atau berapa dana Bantuan Operasional Sekolah yang dikucurkan.

Funco menyayangkan, ukuran kualitas pendidikan jarang dilihat misalnya, berapa banyak jumlah  murid yang telah berhasil melakukan kejujuran di lingkungannya, atau jumlah  murid yang berani mengingatkan orang tuanya agar menghindari korupsi atau hidup bermewah mewahan .

Sementara itu Funco berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia hanya berhenti pada dimensi formalitas belaka, asal sudah mendapatkan nilai bagus maka sudah dianggap berkualitas.

"Pada level yang lain, korupsi, plagiat, manipulasi, radikalisasi adalah efek dari kesemuanya. Jadi, kualitas pendidikan kita mengalami erosi luar biasa, berjalan minus kejujuraan," kata dia.

Sementar aitu, Funco juga mengkritik negara yang menjadikan instrumen ujian nasional sebagai akhir penilaian sukses tidaknya pendidikan di sekolah. Menurutnya, nilai Ujian Nasional digenjot negara karena mau mengikuti logika pasar.

Pasar berdalih sekaligus berkuasa, bahwa jika mau memenuhi kriteria yang diinginkannya, maka Ujian Nasional harus mengikuti standar yang telah ditetapkan.

Ia menjelaskan bahwa dalih tersebut adalah dalih positivistik, bukan dalih humanistik, anak didik kita dipaksa mengikuti ritual tahunan untuk memenuhi selera pasar.

Ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah dan seluruh aspek masyarakat bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dengan tetap menomersatukan ahklak, terutama kesadaran hubungan manusia dengan Allah, Sang Pencipta. (ans/arrahmah.com)