Memuat...

Liga Ulama Muslimin: Perang Iran–AS–“Israel” Bukan Demi Umat, Melainkan Konflik Dominasi

Samir Musa
Senin, 2 Maret 2026 / 13 Ramadan 1447 15:45
Liga Ulama Muslimin: Perang Iran–AS–“Israel” Bukan Demi Umat, Melainkan Konflik Dominasi
Liga Ulama Muslimin: Perang Iran–AS–“Israel” Bukan Demi Umat, Melainkan Konflik Dominasi

KUALA LUMPUR (Arrahmah.id) – Liga Ulama Muslimin mengeluarkan pernyataan resmi terkait konfrontasi militer yang tengah berlangsung antara entitas Zionis yang didukung Amerika Serikat dan rezim Iran. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang demi membela umat Islam, melainkan pertarungan pengaruh dan dominasi antara dua proyek yang saling bersaing di kawasan.

Pernyataan yang dirilis pada 12 Ramadan 1447 H atau bertepatan dengan 1 Maret 2026 M itu dibuka dengan firman Allah Ta’ala dalam QS Ibrahim ayat 42: “Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.”

Dalam mukadimahnya, Liga Ulama Muslimin menyampaikan bahwa apa yang terjadi hari ini adalah konflik kepentingan antara dua kekuatan yang sama-sama tidak mewakili umat Islam. Menurut mereka, konflik tersebut dikendalikan oleh kalkulasi kekuatan, kepentingan politik, dan upaya penataan ulang keseimbangan kendali di kawasan, bukan pembelaan terhadap isu-isu umat.

Entitas Zionis Disebut Musuh Nyata Umat

Dalam poin pertama, Liga menegaskan bahwa entitas Zionis adalah musuh nyata umat Islam. Entitas tersebut berdiri di atas penjajahan dan agresi, serta didukung secara militer dan politik oleh Amerika Serikat.

Liga menyebut keberadaan “Israel” ditegakkan melalui kekuatan, pembantaian, dan pengusiran rakyat Palestina. Karena itu, menurut mereka, permusuhan entitas Zionis terhadap umat Islam tidak menyisakan ruang untuk penafsiran lain.

Rezim Iran Dinilai Proyek Ekspansionis

Pada poin kedua, Liga Ulama Muslimin menyatakan bahwa rezim Iran juga merupakan proyek ekspansionis yang memanfaatkan krisis untuk memperluas pengaruh regionalnya. Mereka menilai Iran menggunakan slogan-slogan keagamaan untuk melayani kepentingan politiknya.

Intervensi Iran di sejumlah negeri Muslim, menurut pernyataan tersebut, telah berkontribusi pada perpecahan dan konflik internal. Karena itu, perseteruan Iran dengan entitas Zionis saat ini tidak mengubah posisinya sebagai pihak yang terlibat dalam konflik kepentingan dan dominasi.

Liga juga mengingatkan bahwa termasuk sunnatullah adalah ketika Allah menjadikan orang-orang zalim saling menundukkan satu sama lain. Namun, pertarungan di antara mereka tidak berarti membenarkan salah satu pihak atau membolehkan umat Islam berbaris di belakangnya.

Peringatan soal Pangkalan Militer di Negeri Muslim

Dalam poin ketiga, Liga menyatakan penyesalan mendalam atas dampak eskalasi konflik yang menimpa sebagian negeri Muslim, berupa kerusakan, teror terhadap warga sipil, serta ancaman terhadap stabilitas.

Mereka menegaskan bahwa menjadikan tanah kaum Muslimin sebagai arena konflik atau pangkalan militer hanya akan melayani proyek dominasi dan menjadikan rakyat sebagai sasaran serangan.

Liga memperingatkan bahwa memberikan peluang kepada musuh untuk mendirikan pangkalan militer permanen di negeri-negeri Muslim, atau memanfaatkan wilayah dan ruang udara mereka untuk proyek perang, adalah perkara yang sangat berbahaya secara syariat dan politik. Hal itu dinilai sebagai bentuk pemberian kekuasaan kepada pihak luar atas kaum Muslimin, sekaligus melemahkan kedaulatan dan kemerdekaan negeri.

Prinsip syariat, tegas mereka, adalah bahwa tanah kaum Muslimin tidak boleh menjadi titik tolak agresi dan tidak boleh dijadikan alat dalam konflik dominasi internasional, melainkan wajib dijaga demi kemaslahatan dan keamanan penduduknya.

Tegaskan Penolakan Keberpihakan

Liga Ulama Muslimin juga secara tegas menyatakan:

  • Penolakan terhadap segala bentuk keberpihakan politik, media, atau militer kepada salah satu dari dua proyek yang bertikai.
  • Penolakan terhadap upaya menggambarkan konflik ini sebagai perang pembebasan atau pembelaan terhadap isu-isu umat.
  • Penegasan bahwa isu umat, terutama Palestina, tidak boleh dijadikan kartu dalam konflik pengaruh dan tidak boleh diikatkan pada poros regional maupun internasional.
  • Seruan untuk membangun sikap umat yang mandiri, menjaga agama, persatuan, dan keamanan rakyatnya.
  • Penegasan bahwa Palestina dan pembebasannya adalah kewajiban seluruh negara Muslim, sebagai isu yang adil dan independen, serta tidak boleh dijadikan selubung bagi proyek-proyek yang tidak mengembalikan hak rakyatnya.

Rekomendasi dan Seruan

Pada bagian akhir, Liga menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya:

  1. Wajib menyadari bahaya kedua proyek tersebut sekaligus dan menolak ketergantungan politik maupun pemikiran kepada keduanya.
  2. Tidak terseret propaganda media yang membungkus konflik kepentingan dengan isu-isu syar’i.
  3. Menguatkan persatuan kaum Muslimin di atas akidah yang benar dan kepentingan bersama, jauh dari poros-poros yang bertikai.
  4. Meningkatkan wacana penyadaran serta mengungkap proyek dominasi yang berjalan di atas darah kaum Muslimin.
  5. Membangun proyek kolektif yang mandiri guna menjaga keputusan dan kedaulatan umat, serta mempersiapkan diri menghadapi fase setelah melemahnya kekuatan-kekuatan yang bertikai.

Pernyataan tersebut ditutup dengan doa agar Allah menahan kekuatan orang-orang zalim dari negeri-negeri Muslim, menjaga umat dari tipu daya makar, serta memberikan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertakwa.

Pernyataan ini dikeluarkan oleh Majelis Tinggi Liga Ulama Muslimin dengan anggota yang berasal dari sejumlah negara, di antaranya Arab Saudi, Mesir, Mauritania, Libanon, Turki, Sudan, Bahrain, Yaman, dan Suriah.

(Samirmusa/arrahmah.id)