Memuat...

Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut, Lima Warga Gaza Gugur di Tengah Krisis Relawan Kemanusiaan

Zarah Amala
Jumat, 27 Februari 2026 / 10 Ramadan 1447 10:20
Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut, Lima Warga Gaza Gugur di Tengah Krisis Relawan Kemanusiaan
Kerabat dari dua syuhada dari Khan Yunis berdiri di depan Rumah Sakit Al-Shifa selama pemakaman mereka (Reuters)

GAZA (Arrahmah.id) - Serangkaian serangan militer 'Israel' kembali menelan korban jiwa di Jalur Gaza pada Kamis (26/2/2026). Setidaknya lima warga sipil Palestina dilaporkan gugur dalam berbagai insiden penembakan dan pengeboman yang dilakukan oleh pasukan pendudukan, termasuk serangan terhadap nelayan di pesisir Gaza.

Menurut sumber medis dari Rumah Sakit Baptist, dua orang gugur dan lainnya luka-luka akibat pengeboman 'Israel' di lingkungan Al-Tuffah, sebelah timur Kota Gaza. Sementara itu, di Deir al-Balah, jenazah seorang warga dievakuasi setelah ditembak oleh pesawat nirawak (drone) 'Israel' di dekat zona kendali militer.

Militer 'Israel' mengklaim telah menetralisir seorang pria bersenjata yang mendekati posisi Brigade Golani di Gaza Selatan. Mereka menuduh insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.

Namun, data lapangan menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Garis Kuning, garis imajiner yang memisahkan 53% wilayah Gaza di bawah kendali 'Israel' (Timur) dengan wilayah pengungsian Palestina (Barat).

Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025, tercatat 618 warga Palestina gugur akibat pelanggaran harian oleh militer Israel, seringkali dengan dalih mendekati Garis Kuning.

Krisis kemanusiaan semakin diperparah dengan eksodus 57 staf internasional yang meninggalkan Gaza melalui penyeberangan Kerem Shalom pada Kamis (26/2). Hal ini terjadi setelah 'Israel' memberlakukan syarat ketat untuk memperbarui izin operasi organisasi kemanusiaan, termasuk pemeriksaan keamanan intensif dan kontrol terhadap program bantuan.

Claire Nicolet, koordinator darurat Médecins Sans Frontières (MSF), memperingatkan dampak fatal dari kebijakan ini. "Penduduk Gaza akan kehilangan akses layanan kesehatan dan air bersih. Kelompok rentan akan menjadi yang paling terdampak jika operasi kami terhenti akibat hambatan administratif 'Israel'," tegasnya. (zarahamala/arrahmah.id)