KAIRO (Arrahmah.id) - Serial drama Mesir terbaru berjudul "Sahab al-Ard" (Pemilik Tanah) memicu ketegangan diplomatik di ruang digital setelah militer 'Israel' melancarkan serangan verbal terhadap produksi tersebut. Serial yang tayang pada Ramadhan 2026 ini menggambarkan realitas kehidupan warga Gaza di bawah serangan militer, sebuah narasi yang disebut 'Israel' sebagai "pemalsuan fakta."
Juru bicara militer 'Israel' (IDF) dalam bahasa Arab, Ella Waweya, secara terbuka menyerang serial tersebut dan mempertanyakan akurasi ceritanya. Menanggapi hal itu, sutradara Peter Mimi membalas dengan tajam melalui media sosial. Ia mengunggah foto seorang aktris yang berperan sebagai "Ella Waweya" di dalam serial tersebut.
"Pemalsuan fakta apa? Semua videonya (bukti nyata) ada! Lagi pula, saya susah payah mencari aktris yang mirip dengan Anda. Kemenangan bagi mereka yang terzalimi. Hidup Mesir, hidup Palestina," tulis Peter Mimi pada Kamis (26/2/2026).
Serial "Sahab al-Ard" mengisahkan perjalanan seorang dokter wanita asal Mesir yang masuk ke Jalur Gaza bersama konvoi bantuan kemanusiaan. Ia kemudian bertemu dengan seorang pria Palestina yang tengah berjuang menyelamatkan keluarganya di tengah puing-puing bangunan.
Aktor utama serial ini, Eyad Nassar, menepis tuduhan bahwa cerita tersebut dibuat-buat. "Serial Sahab al-Ard tidak dibuat oleh kami sendiri, melainkan dibuat oleh tentara pendudukan di Gaza melalui kejahatan dan ketidakmanusiaan mereka," tegasnya.
Meskipun menuai kritik keras dari media dan politisi 'Israel', serial ini justru meraih kesuksesan besar secara komersial dan sosial. Komite Drama dari Dewan Tertinggi Pengaturan Media di Mesir menyatakan bahwa serial ini meraih angka penonton tertinggi sejak awal Ramadhan.
Tagar terkait serial ini memuncaki mesin pencarian di Mesir dan seluruh dunia Arab. Banyak pengguna media sosial menganggap kemarahan 'Israel' sebagai bukti bahwa pesan dalam film tersebut akurat dan berhasil mengungkap apa yang ingin "dikubur" oleh 'Israel'.
Namun, beberapa kritikus bersikap lebih pragmatis. "Karya seni dan akting tidak akan mengubah realitas perang. Pemilik tanah yang asli masih terbunuh hingga saat ini tanpa ada tindakan nyata dari pemerintah mana pun," tulis seorang netizen bernama Kamel, merujuk pada stagnasi aksi internasional. (zarahamala/arrahmah.id)
