GAZA (Arrahmah.id) - Dalam sebuah langkah media dan simbolis yang mencolok, Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas, merilis sebuah video klip pertama dari mendiang juru bicaranya, Hudhaifah Al-Kahlout, yang lebih dikenal sebagai "Abu Ubaidah". Video tersebut memperlihatkan wajahnya tanpa kain keffiyeh yang telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun tugas militernya.
Video yang dirilis sebagai bagian dari seri "Satelit Badai" (Aqmār at-Tūfān) ini mendokumentasikan partisipasi Al-Kahlout dalam upacara penghormatan bagi pejuang Batalyon Al-Quds di kamp pengungsian Nuseirat, Jalur Gaza.
Publikasi ini dilakukan bersamaan dengan penayangan cuplikan komandan syahid Ismail Faiz Al-Sarraj (Abu Muadz), guna memberikan penghormatan kembali kepada simbol-simbol perlawanan yang gugur selama perang dan menghubungkan perjalanan lapangan mereka dengan narasi "Badai Al-Aqsa".
Meskipun perhatian dunia saat ini tersita oleh perang melawan Iran, video tersebut berhasil memuncaki interaksi di media sosial. Para netizen membagikan video tersebut secara masif dengan perasaan campur aduk antara terkejut dan sedih karena baru bisa melihat wajah pria yang suaranya telah melekat di ingatan mereka selama bertahun-tahun setelah ia tiada.
Para pengikut memfokuskan pada dimensi emosional dari momen perkenalan pertama dan terakhir dengan wajah sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai "Si Terbungkus" (al-mulaththam) dengan keffiyeh merahnya.
Kemunculan Al-Kahlout tanpa penutup wajah dianggap sebagai pelengkap dari biografi perjalanannya. Ia bertransformasi dari simbol tanpa wajah yang mewakili kerahasiaan dan disiplin menjadi karakter nyata dengan ekspresi yang jelas, memperdalam ikatan emosional publik terhadapnya.
Berbagai platform media sosial dipenuhi dengan ucapan duka cita. Banyak netizen menulis bahwa raga boleh pergi, namun bendera tetap berkibar, menganggap pengungkapan wajah setelah kesyahidannya justru memperkuat kehadirannya di hati rakyat.
Perlu dicatat bahwa gerakan Hamas telah mengumumkan kesyahidan Hudhaifah Al-Kahlout pada 29 Desember 2025, akibat serangan udara 'Israel' selama perang di Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
