WASHINGTON (Arrahmah.id) - Utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump mempertanyakan sikap Iran yang belum juga menyerah meskipun Washington telah melakukan penumpukan kekuatan militer besar-besaran di Timur Tengah. Dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu (21/2/2026), Witkoff menyebut Trump "heran" mengapa tekanan militer tersebut belum berhasil memaksa Tehran menyepakati perjanjian nuklir baru.
"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi', namun beliau penasaran mengapa mereka belum... saya tidak ingin menggunakan kata 'kapitulasi', tapi mengapa mereka belum menyerah (kapitulasi)," ujar Witkoff. Ia mempertanyakan mengapa di bawah tekanan armada laut dan kekuatan udara yang masif, Iran belum datang untuk memberikan konsesi penuh guna membuktikan mereka tidak menginginkan senjata nuklir.
Pernyataan ini muncul di tengah dimulainya kembali negosiasi antara AS dan Iran di Jenewa melalui mediasi Oman. Washington sebelumnya telah mengirimkan dua kapal induk, jet tempur, dan berbagai persenjataan canggih sebagai dukungan atas ancaman serangan militer jika kesepakatan gagal tercapai. Iran saat ini berada di bawah bayang-bayang serangan militer AS sebagai respons atas penindakan terhadap demonstran anti-pemerintah dan kebuntuan isu nuklir.
Sementara itu, situasi di Jalur Gaza dilaporkan terus memburuk. Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober lalu, militer 'Israel' dilaporkan kembali melakukan pelanggaran dengan melancarkan serangan udara di wilayah timur Rafah dan Kota Gaza, serta tembakan artileri di Khan Yunis. Serangan ini terjadi bertepatan dengan pelaksanaan bulan suci Ramadhan, yang merupakan Ramadhan ketiga bagi warga Gaza di bawah kondisi perang. (zarahamala/arrahmah.id)
