GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah reruntuhan bangunan dan kegelapan total, warga lingkungan Al-Atatra di Beit Lahia, Gaza Utara, berjuang menghidupkan kembali ibadah bulan Ramadhan. Meski berada hanya beberapa ratus meter dari "Garis Kuning" (zona militer 'Israel'), sekitar 600 keluarga yang kembali ke wilayah ini membangun musala darurat dari sisa-sisa besi dan plastik bekas greenhouse pertanian.
Syekh Yusuf al-Attar (69), imam musala tersebut, harus menempuh perjalanan berbahaya sejauh 3 kilometer di antara puing-puing untuk memimpin shalat Isya dan Tarawih. Tanpa listrik dan sistem pengeras suara, para jemaah hanya mengandalkan lampu ponsel untuk menerangi tempat sujud yang hanya berkapasitas 50 orang tersebut.
Imam masjid harus menempuh jalan yang sulit untuk sampai ke sana (Al Jazeera)
Kondisi di Al-Atatra jauh dari kata aman. Jemaah sering kali menjadi sasaran tembak langsung dari posisi militer 'Israel' yang terlihat jelas dari lokasi musala. Syekh Al-Attar menceritakan momen di mana jemaah harus membatalkan shalat Maghrib dan bersembunyi di balik reruntuhan karena rentetan tembakan militer.
Untuk menjaga keselamatan, imam sengaja memilih bacaan ayat pendek agar shalat Tarawih dapat diselesaikan dalam waktu 30 menit sebelum risiko serangan meningkat di malam hari. Musala ini tidak memiliki Al-Qur'an fisik karena blokade 'Israel' yang melarang masuknya kitab suci tersebut sejak awal perang Oktober 2023.
Kondisi di Al-Atatra merupakan cerminan dari kehancuran total infrastruktur religi di Jalur Gaza. Berdasarkan data Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza. Dari total 1.244 masjid di Gaza, sebanyak 1.160 masjid telah rusak atau hancur (sekitar 93%), 909 masjid rata dengan tanah, sementara 251 lainnya rusak berat dan tidak layak digunakan.
Meskipun bahaya maut mengintai setiap hari, termasuk insiden gugurnya dua warga di area Tel al-Dhahab pada hari yang sama, warga Al-Atatra tetap memilih kembali ke reruntuhan rumah mereka. Bagi mereka, menegakkan shalat berjamaah di musala plastik ini adalah cara untuk menjaga martabat dan perlahan-lahan mengembalikan denyut kehidupan di wilayah yang telah luluh lantak. (zarahamala/arrahmah.id)
