Memuat...

14 Muslim Ditangkap Usai Iftar di Sungai Gangga, Picu Kontroversi

Hanoum
Rabu, 18 Maret 2026 / 29 Ramadan 1447 08:07
14 Muslim Ditangkap Usai Iftar di Sungai Gangga, Picu Kontroversi
Belasan muslim India ditangkap gara-gara berbuka puasa di tengah Sungai Gangga. [Foto: Scroll.in]

VARANASI (Arrahmah.id) -- Sebanyak 14 Muslim di kota Varanasi, India, ditangkap aparat kepolisian setelah menggelar acara berbuka puasa (iftar) di atas perahu di Sungai Gangga. Insiden ini memicu kontroversi karena dianggap menyinggung sensitivitas keagamaan di salah satu sungai paling suci bagi umat Hindu.

Dilansir The New Indian Express (17/3/2026), penangkapan dilakukan setelah sebuah video yang memperlihatkan kelompok tersebut menggelar iftar di atas perahu viral di media sosial. Dalam rekaman itu, mereka terlihat berbuka puasa dan diduga mengonsumsi makanan non-vegetarian seperti biryani ayam, yang kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah pihak.

Polisi menyatakan para pelaku dijerat sejumlah pasal, termasuk dugaan melukai perasaan keagamaan, mencemari tempat suci, serta pelanggaran terkait ketertiban umum dan lingkungan. Laporan juga menyebut adanya tuduhan bahwa sisa makanan dibuang ke Sungai Gangga, yang dianggap suci oleh umat Hindu.

Kasus ini bermula dari laporan seorang tokoh organisasi pemuda setempat yang menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan di sungai yang memiliki nilai spiritual tinggi. Otoritas kemudian bergerak cepat dan menangkap para pelaku dalam waktu singkat setelah laporan diajukan.

Media internasional juga menyoroti bahwa insiden ini tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga menyentuh isu sensitif terkait hubungan antaragama di India. Sungai Gangga sendiri memiliki posisi sakral dalam tradisi Hindu dan menjadi pusat berbagai ritual keagamaan, sehingga aktivitas yang dianggap mencemari kesuciannya kerap memicu reaksi keras.

Peristiwa ini kembali menyoroti kompleksitas dinamika sosial dan keagamaan di India, khususnya di kota-kota suci seperti Varanasi. Sejumlah pengamat menilai penanganan kasus semacam ini membutuhkan pendekatan yang sensitif agar tidak memperkeruh hubungan antar komunitas di tengah meningkatnya ketegangan sosial. (hanoum/arrahmah.id)