KABUL (Arrahmah.id) -- Seorang tokoh keagamaan yang berafiliasi dengan Taliban dilaporkan menyerukan warga untuk bergabung dengan kelompok bersenjata Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dalam konflik melawan Pakistan. Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer antara otoritas Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA) dan Pakistan yang kini mendekati situasi konflik terbuka.
Seruan yang dikeluarkan Mufti Besar Abdul Rauf Etminan, seperti dilansir Afghan Analyst (17/3/2026), ini beredar luas di media sosial dan kanal pemantau konflik, yang menyebut adanya dorongan dari kalangan ulama untuk mendukung TTP dalam menghadapi operasi militer Pakistan di wilayah perbatasan. Meski belum ada konfirmasi resmi dari otoritas IIA, narasi tersebut mencerminkan meningkatnya retorika konfrontatif di lapangan.
Situasi ini berkembang seiring eskalasi konflik antara kedua negara. Dalam beberapa pekan terakhir, Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan dengan alasan menargetkan militan, termasuk TTP, yang dituduh beroperasi dari wilayah Afghanistan. Sebaliknya, Taliban menuduh Pakistan melanggar kedaulatan dan menargetkan warga sipil.
Di sisi lain, kelompok TTP sendiri merupakan organisasi militan yang berbasis di sepanjang perbatasan Afghanistan–Pakistan dan telah lama melakukan serangan terhadap aparat keamanan Pakistan. Kelompok ini bertujuan menggulingkan pemerintah Pakistan dan menggantinya dengan sistem pemerintahan berbasis interpretasi syariah mereka.
Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa konflik yang memanas telah mendorong mobilisasi ideologis di dalam Afghanistan. Beberapa imam dan tokoh lokal dilaporkan menyerukan “jihad” terhadap Pakistan, sementara TTP meningkatkan serangan lintas batas sebagai respons terhadap operasi militer Islamabad.
Ketegangan ini semakin memperburuk hubungan antara IIA dan Pakistan yang sebelumnya sudah rapuh. Islamabad menuduh Kabul memberikan perlindungan kepada militan TTP, sementara IIA membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Pakistan sebagai pihak yang memperluas konflik melalui serangan militer. (hanoum/arrahmah.id)
