Memuat...

AS di Ambang Serbu Iran? Skenario Perang Darat Mulai Disiapkan

Samir Musa
Ahad, 29 Maret 2026 / 10 Syawal 1447 20:15
AS di Ambang Serbu Iran? Skenario Perang Darat Mulai Disiapkan
Foto arsip pasukan penerjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82 milik Angkatan Darat Amerika Serikat (Shutterstock)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Wacana perang darat Amerika Serikat di Iran kini tak lagi sekadar spekulasi. Sejumlah laporan media Barat menyebutkan bahwa opsi tersebut mulai disiapkan secara serius, meski belum sampai pada keputusan final.

Laporan dari The Guardian dan The Washington Post (29/3) mengungkap bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengirim ribuan pasukan ke kawasan Timur Tengah, termasuk marinir dan pasukan lintas udara.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk kesiapan militer yang nyata. Namun, pengerahan pasukan masih bergantung pada perkembangan jalur diplomasi dengan Teheran.

Dilema Washington: Antara Perang dan Diplomasi

Di tengah eskalasi, Washington tampak belum sepenuhnya mantap. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa tujuan Amerika masih bisa dicapai tanpa harus mengerahkan pasukan darat.

Pernyataan ini mencerminkan keraguan politik yang cukup besar. Pemerintah AS dinilai masih berhitung matang, mengingat risiko perang darat yang bisa berubah menjadi konflik panjang dan mahal.

Namun di balik sikap hati-hati itu, Pentagon disebut-sebut telah menyiapkan berbagai skenario operasi darat. Rencana tersebut mencakup misi terbatas yang dilakukan oleh pasukan khusus hingga unit tempur reguler.

Bukan Invasi Besar, Tapi Operasi Cepat dan Terbatas

Menurut laporan, opsi yang disiapkan bukanlah invasi besar-besaran seperti di Irak atau Afghanistan.

Sebaliknya, Washington lebih condong pada operasi taktis berskala terbatas—misalnya menghancurkan fasilitas militer penting atau merebut titik strategis dalam waktu singkat.

Salah satu target yang disebut adalah Pulau Kharg, jalur vital ekspor minyak Iran yang menyalurkan sekitar 90 persen minyak mentah negara tersebut.

Namun, para analis memperingatkan bahwa operasi di wilayah ini sangat berisiko. Iran diperkirakan akan merespons dengan serangan drone, rudal, hingga ranjau laut, yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi pasukan AS.

Iran Dianggap Lawan Sulit

Pengalaman panjang Iran dalam perang asimetris menjadi faktor utama yang membuat Washington berhati-hati.

Kemampuan Teheran dalam menggunakan taktik tidak konvensional—mulai dari serangan tidak langsung hingga perang proksi—dinilai dapat menyulitkan operasi militer darat apa pun.

Selain itu, jumlah pasukan AS yang saat ini ditempatkan di kawasan juga belum menunjukkan tanda-tanda persiapan invasi besar.

Tekanan Publik AS Jadi Penghambat

Faktor lain yang tak kalah penting adalah tekanan dari dalam negeri Amerika. Survei menunjukkan sekitar 62 persen warga AS menolak keterlibatan pasukan darat di Iran.

Hal ini menjadi kendala serius bagi pemerintahan Trump untuk mengambil langkah eskalasi yang lebih jauh.

The Washington Post: Pentagon benar-benar bersiap untuk operasi darat yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu (Getty)

Opsi Terakhir Jika Diplomasi Gagal

Meski penuh risiko, opsi perang darat tetap berada di meja. Sejumlah pejabat AS melihat operasi terbatas sebagai alat tekanan dalam negosiasi, termasuk untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz atau membatasi kemampuan militernya.

Laporan juga menyebut bahwa intensitas serangan udara AS yang terus meningkat menjadi sinyal bahwa Washington siap memperluas operasi jika jalur non-militer gagal.

Belum Pasti, Tapi Kian Nyata

Kesimpulannya, perang darat AS di Iran memang belum berada di ambang pelaksanaan dalam waktu dekat. Namun, untuk pertama kalinya, skenario tersebut kini dipersiapkan secara serius.

Kondisi ini menempatkan kawasan dalam situasi penuh ketidakpastian—antara harapan diplomasi dan bayang-bayang konflik besar yang bisa pecah sewaktu-waktu.

(Samirmusa/arrahmah.id)