DEIR AL-BALAH (Arrahmah.id) - Ribuan keluarga Palestina di kamp pengungsian Al-Sitt Amira, selatan Deir al-Balah, menghadapi situasi kemanusiaan yang sangat kritis pada Jumat (27/3/2026). Selain dihantui serangan udara 'Israel' yang terus berlanjut, para pengungsi kini harus berjuang melawan dampak badai musim dingin yang merendam ratusan tenda mereka.
Hujan deras yang mengguyur Jalur Gaza baru-baru ini telah mengubah area pengungsian menjadi kubangan lumpur, menghancurkan pakaian, selimut, dan satu-satunya perlindungan yang dimiliki warga. Banyak anak-anak dilaporkan terpaksa menghabiskan malam di udara terbuka setelah tenda mereka tidak lagi layak huni akibat robek terkena serpihan bom maupun terjangan air.
Pesawat tempur 'Israel' dilaporkan kembali menyerang area sekitar kamp Al-Sitt Amira dalam beberapa jam terakhir. Seorang ibu menceritakan kepada koresponden Al Jazeera, Ashraf Abu Amra, bahwa ia kembali ke tendanya hanya untuk menemukan tempat tinggal daruratnya hancur oleh serpihan bom (shrapnel), tepat saat hujan mulai turun deras.
Saat ini diperkirakan ada 1,9 juta warga Gaza yang hidup di tenda-tenda usang yang tidak memiliki fasilitas dasar. Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025, bantuan tenda baru dan material bangunan masih dilarang masuk secara bebas oleh pihak otoritas 'Israel'.
Dengan 90% infrastruktur sipil yang rusak akibat perang, warga tidak memiliki sistem pembuangan air yang berfungsi. Akibatnya, air hujan langsung menggenangi area pemukiman darurat tanpa ada jalan keluar.
Data terbaru menunjukkan angka syuhada telah melampaui 72.000 jiwa dan 172.000 luka-luka. Banyak dari korban luka kini harus bertahan hidup di tenda yang basah dan dingin, meningkatkan risiko infeksi dan penyakit pernapasan.
Bagi warga Gaza, tenda yang seharusnya menjadi tempat berlindung sementara kini berubah menjadi zona bahaya. Tanpa adanya intervensi internasional untuk memasukkan bantuan kemanusiaan berupa material tenda tahan air dan pemanas, musim dingin kali ini diprediksi akan menjadi salah satu periode paling mematikan bagi warga sipil di pengungsian. (zarahamala/arrahmah.id)
