Memuat...

Ketua DPR AS: Kami adalah Setan Besar dalam Agama Mereka yang Sesat

Hanoum
Kamis, 5 Maret 2026 / 16 Ramadan 1447 03:59
Ketua DPR AS: Kami adalah Setan Besar dalam Agama Mereka yang Sesat
Mike Johnson (tengah). [Foto: Wall Street Journey]

WASHINGTON (Arrahmah.id) --  Mike Johnson, Ketua DPR Amerika Serikat (AS), dalam konferensi pers di United States Congress pada Rabu (4/3/2026) membela operasi militer AS terhadap Iran. Dia menyatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung sebenarnya dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian melalui kekuatan dan mengkritik pemahaman yang dibangun oleh sebagian pendukung politik di negaranya.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir The Daily Beast (5/3), Johnson menyinggung narasi yang berkembang di kalangan oposisi dan sebagian media internasional bahwa beberapa pihak di Washington melihat retorika konflik ini melalui lensa agama. Ia menyebut bahwa dalam pandangan musuh negara — khususnya kalangan ekstrem di Iran — Amerika Serikat sering digambarkan sebagai “Big Satan” (Setan Besar). Pernyataan semacam itu memang sering muncul dalam retorika anti-Amerika di Teheran dan kelompok garis keras, yang menyamakan Washington dengan simbol kekuatan Barat yang harus dilawan, sebuah retorika yang telah lama dipotret media internasional dalam konteks hubungan Teheran–Washington.

Johnson mengklaim bahwa konflik yang kini dilabeli “Operation Epic Fury” bukanlah perang agresif, melainkan upaya defensif untuk menghadapi ancaman yang telah dipandang AS dan sekutunya selama puluhan tahun. Ia mencoba meyakinkan para pendukungnya bahwa perang ini menyasar kemampuan militer Iran dan bukan perang agama, meskipun ia menyatakan “perdamaian dicapai melalui kekuatan” dan menyiratkan dukungan ilahi bagi misi tersebut di hadapan sejumlah kader politik konservatif AS.

Pernyataan Johnson datang di tengah kritik luas dari sejumlah elemen politik di AS termasuk media arus utama dan kelompok hak sipil yang menilai retorika semacam itu berisiko memicu persepsi bahwa konflik ini bersifat religius, bukan politis atau strategis. Kritik ini menguat setelah laporan media lain menyebut beberapa pejabat militer AS menggunakan narasi religius dalam konteks perang, termasuk referensi naratif Alkitab yang menyebut konflik sebagai bagian dari “rencana ilahi” untuk masa depan dunia, yang kemudian dikaitkan dengan cakrawala keagamaan tentang akhir zaman.

Beberapa analis hubungan internasional menilai referensi terhadap istilah-istilah seperti “Setan Besar” dalam retorika media atau retorika pihak lawan justru mencerminkan persepsi historis yang sudah lama ada terhadap AS di wilayah tersebut, terutama di Iran pasca revolusi 1979, di mana Washington dipandang sebagai kekuatan asing yang merugikan bangsa Iran. Kata “Setan Besar” sendiri telah menjadi bagian dari pidato politik tertentu di Tehran sejak lama, mencerminkan kebencian ideologis terhadap kebijakan luar negeri AS.

Secara keseluruhan, pernyataan terbaru Johnson menimbulkan perdebatan seputar bahasa yang digunakan oleh pejabat pemerintahan AS tentang tujuan militer di wilayah konflik, dengan pro dan kontra di kalangan politisi, pakar strategis, dan masyarakat internasional tentang apakah retorika agama berlebihan dapat memperburuk atau memperjelas alasan di balik operasi tersebut. (hanoum/arrahmah.id)