Memuat...

UBN Prediksi Eskalasi Konflik Iran–AS Kian Meluas, Soroti Dampak Global dan Peran IRGC

Ameera
Rabu, 4 Maret 2026 / 15 Ramadan 1447 21:16
UBN Prediksi Eskalasi Konflik Iran–AS Kian Meluas, Soroti Dampak Global dan Peran IRGC
UBN Prediksi Eskalasi Konflik Iran–AS Kian Meluas, Soroti Dampak Global dan Peran IRGC

JAKARTA (Arrahmah.id) — Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustadz Bachtiar Nasir, menilai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi semakin meluas.

Penilaian itu muncul setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta dinamika respons militer yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Ustadz Bachtiar Nasir dalam program The Daily Buzz bertajuk “Perang Iran–AS, Timur Tengah Membara” yang tayang di kanal YouTube Okezone pada Senin (2/3/2026).

Menurutnya, sosok yang gugur tersebut tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam sistem ketatanegaraan Iran.

Ia menjelaskan bahwa dalam konsep Velayat-e Faqih, pemimpin tertinggi juga memiliki kewenangan sebagai panglima tertinggi militer sekaligus penentu arah ideologi negara.

“Yang gugur ini bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga panglima tertinggi militer dalam struktur negara mereka,” ujarnya.

Ustadz Bachtiar Nasir menilai peristiwa tersebut dapat memicu penguatan nasionalisme di dalam negeri Iran.

Ia menyebut kematian pemimpin tertinggi dalam situasi konflik kerap dipandang sebagai kemartiran yang mampu memperkuat solidaritas nasional.

“Ini bukan kepergian biasa, ini martir. Martirisme biasanya melahirkan nasionalisme yang lebih kuat,” katanya.

Ia memperkirakan eskalasi konflik akan sangat dipengaruhi oleh sosok yang menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran.

Menurutnya, secara politik dan militer, faksi yang saat ini dominan di Iran berasal dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

“Bocorannya, beliau sudah menunjuk penggantinya. Di Iran, yang dominan secara politik dan militer adalah IRGC. Legitimasi kepemimpinan spiritual dan ideologinya masih sangat kuat,” jelasnya.

Meski demikian, Ustadz Bachtiar Nasir tidak menutup kemungkinan munculnya gejolak internal di Iran.

Namun ia menilai pengalaman panjang negara tersebut menghadapi tekanan eksternal membuat Iran relatif siap menghadapi situasi krisis.

“Serangan balik pasti dilakukan dan sekarang sedang berlangsung,” ujarnya.

Ia juga menyoroti laporan mengenai sejumlah pangkalan militer di kawasan Timur Tengah yang disebut menjadi sasaran serangan.

Menurutnya, langkah tersebut dipandang Iran sebagai respons terhadap ancaman yang mereka rasakan.

Selain Iran, sejumlah kelompok proksi di kawasan juga disebut ikut bergerak. Di wilayah utara "Israel", wilayah Lebanon dilaporkan bersiap menghadapi potensi perluasan konflik.

Sementara itu di Yaman, kelompok Houthi dilaporkan menutup jalur Laut Merah sejak 1 Maret, yang berdampak pada pelayaran global di kawasan Bab el-Mandeb.

“Laut Merah saja sudah membuat pelayaran global terganggu. Ini bisa berdampak luas, termasuk ke Indonesia,” katanya.

Di Irak, sejumlah faksi bersenjata juga disebut melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat.

Ustadz Bachtiar Nasir menilai situasi tersebut menunjukkan konflik tidak lagi bersifat bilateral, melainkan melibatkan banyak aktor di kawasan.

Ia juga mengingatkan potensi dampak ekonomi global jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia diketahui melintas melalui jalur tersebut.

“Kalau ini berlangsung dua pekan saja, inflasi global bisa tidak terbayangkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustadz Bachtiar Nasir menilai indikator konflik global dapat terlihat ketika negara-negara pemilik senjata nuklir terlibat dalam gesekan terbuka di satu panggung konflik.

Ia menambahkan bahwa perang modern tidak selalu diumumkan secara formal.

“Perang itu tidak selalu diumumkan secara resmi. Perang siber sudah berjalan, perang ekonomi juga sudah berjalan. Tinggal menunggu kontraksinya kapan,” kata dia.

Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa eskalasi di sejumlah titik seperti Ukraina, Laut Merah, Selat Hormuz, hingga kawasan Asia Timur menunjukkan dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan saling terhubung.

(ameera/arrahmah.id)