TEHERAN (Arrahmah.id) - Konflik bersenjata antara aliansi Amerika Serikat-'Israel' melawan Iran memasuki hari kelima dengan eskalasi yang kian tak terkendali di seluruh kawasan Timur Tengah. Menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei pada Sabtu lalu (28/2/2026), Teheran meluncurkan gelombang serangan masif menggunakan ribuan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan kepentingan militer serta diplomatik AS di delapan negara Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Yordania, dan Irak.
Situasi ini memaksa Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan perintah evakuasi darurat bagi staf diplomatik non-esensial dari beberapa negara tersebut guna menghindari jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.
Di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serangan drone secara spesifik menyasar fasilitas diplomatik AS. Juru bicara militer Saudi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengonfirmasi bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh dihantam dua drone yang memicu kebakaran terbatas, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melaporkan sebuah drone menghantam area parkir Konsulat AS di Dubai.
Meskipun sistem pertahanan udara di Teluk, seperti di Bahrain dan UEA, berhasil mencegat ratusan proyektil, dampak kemanusiaan tetap jatuh di Kuwait, di mana serpihan drone yang hancur menghantam sebuah rumah warga dan mengakibatkan seorang gadis meninggal dunia.
Ketegangan di jalur logistik energi dunia juga mencapai titik kritis setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah menutup total Selat Hormuz dan menargetkan lebih dari 10 kapal tanker minyak yang dianggap bekerja sama dengan AS. Data navigasi menunjukkan setidaknya 150 kapal tanker kini tertahan di luar selat tersebut, memicu kekhawatiran akan kelumpuhan pasokan energi global.
Di sisi lain, militer 'Israel' terus memperluas jangkauan serangan udaranya ke jantung Teheran, termasuk mengeklaim penghancuran situs nuklir rahasia bawah tanah Minzadeh yang diyakini sebagai elemen vital pengembangan senjata atom Iran.
Menanggapi hujan rudal tersebut, negara-negara Teluk seperti Qatar dan Kuwait telah melayangkan protes resmi kepada Dewan Keamanan PBB, menegaskan bahwa serangan Iran merupakan pelanggaran kedaulatan yang nyata.
Sementara itu, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa "gelombang besar" serangan AS berikutnya sedang dipersiapkan dan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat jika Iran terus melanjutkan agresinya.
Sebaliknya, Teheran menyatakan telah menyiapkan infrastruktur untuk menghadapi "perang jangka panjang" dan bersumpah akan terus membuka "pintu neraka" bagi Washington dan Tel Aviv hingga seluruh pimpinan mereka menerima balasan yang setimpal. (zarahamala/arrahmah.id)
