WASHINGTON (Arrahmah.id) - Perdebatan sengit pecah di Capitol Hill setelah sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat mempertanyakan dasar logika di balik serangan militer terhadap Iran. Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas, Kongres kini mulai bergerak untuk membatasi wewenang eksekutif Presiden Donald Trump dalam memicu peperangan.
Senator Independen dari Maine, Angus King, menyatakan bahwa keterlibatan AS dalam perang ini akan menjadi hal yang sangat meresahkan jika didorong oleh agenda 'Israel'. Kritik ini muncul menyusul laporan bahwa Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, telah lama mendesak aksi militer yang sebelumnya selalu ditolak oleh presiden-presiden AS terdahulu.
Menanggapi eskalasi yang terjadi sejak Sabtu lalu (28/2/2026), para politikus Partai Demokrat mulai mengajukan Resolusi Wewenang Perang (War Powers Resolution) yang memiliki tujuan utama untuk mewajibkan adanya otorisasi resmi dari Kongres untuk setiap kelanjutan atau perluasan operasi militer AS terhadap Iran.
Dalam surat resmi kepada Gedung Putih, pimpinan Demokrat menuntut jawaban jelas mengenai tujuan strategis, biaya perang, dan langkah-langkah perlindungan untuk mencegah eskalasi yang tak terkendali.
Simpang Siur Pernyataan: Trump vs Marco Rubio
Ketegangan di Kongres diperparah oleh pernyataan yang saling bertentangan dari lingkaran dalam pemerintahan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio berargumen bahwa AS bertindak secara preventif. Ia mengklaim intelijen AS mengantisipasi serangan 'Israel' dalam waktu dekat, dan jika "Israel bergerak lebih dulu," Iran dipastikan akan langsung menargetkan pasukan AS.
Di sisi lain, Presiden Trump justru menolak klaim bahwa Washington bertindak atas desakan 'Israel'. "Jika ada, akulah yang memaksa 'Israel' (untuk bertindak)," ujar Trump dalam pertemuan di Ruang Oval, sebuah pernyataan yang langsung memicu kecaman lintas partai karena inkonsistensi narasi pemerintah.
Gejolak politik ini mencerminkan keresahan masyarakat Amerika Serikat berdasarkan jajak pendapat terbaru. Polling CNN menunjukkan sekitar 6 dari 10 warga Amerika tidak menyetujui keputusan aksi militer terhadap Iran.
Sementara itu polling dari Washington Post melaporkan hampir setengah dari responden menentang serangan tersebut, sementara hanya 39% yang memberikan dukungan. Ketidakpuasan ini didominasi oleh pemilih Demokrat dan Independen, sementara pemilih Republik cenderung tetap mendukung langkah Trump. (zarahamala/arrahmah.id)
