WASHINGTON (Arrahmah.id) - Sebuah laporan eksklusif dari Reuters mengungkap bahwa kurang dari 48 jam sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu melakukan panggilan telepon krusial kepada Donald Trump. Panggilan ini disebut sebagai argumen penutup yang meyakinkan Trump untuk segera melancarkan serangan Decapitation Strike (serangan pemenggalan kepala) terhadap kepemimpinan tertinggi Iran.
Netanyahu memanfaatkan informasi intelijen bahwa Ali Khamenei akan mengadakan rapat mendadak dengan petinggi militer pada Sabtu pagi (28/2/2026). Ia mendesak Trump bahwa ini adalah kesempatan bersejarah yang takkan terulang untuk melenyapkan ancaman nuklir Iran sekaligus membalas upaya pembunuhan terhadap Trump yang diduga dirancang Teheran pada 2024.
Jadwal rapat Khamenei yang dimajukan menjadi celah sempit bagi AS-'Israel' untuk melakukan serangan presisi. Netanyahu meyakinkan Trump bahwa ini adalah momen terbaik untuk mengubah peta kekuatan dunia.
Benih perang ini ternyata sudah ditanam sejak pertemuan di Florida pada Desember 2025. Saat itu, Netanyahu menyatakan ketidakpuasannya atas hasil serangan fasilitas nuklir Juni 2025 yang dianggap belum cukup melumpuhkan Iran. Keberhasilan militer AS di Venezuela tanpa korban jiwa serta krisis ekonomi internal Iran memberi kepercayaan diri tinggi bagi administrasi Trump bahwa operasi besar di Iran bisa dilakukan dengan biaya minimal.
CIA sebenarnya sudah memperingatkan bahwa membunuh Khamenei bisa memicu munculnya pemimpin yang jauh lebih radikal. Namun, Trump tetap memilih opsi militer Epic Fury dengan target menghancurkan total kemampuan rudal, angkatan laut, dan program nuklir Iran.
Meskipun Netanyahu menyebut laporan ini sebagai berita bohong (fake news) dan Trump menegaskan bahwa keputusan perang adalah murni pilihannya sendiri, sumber-sumber internal menunjukkan bahwa lobi intensif 'Israel' berperan besar dalam menentukan Jam Nol serangan tersebut.
Keputusan yang diambil dalam panggilan telepon itu kini telah membawa kawasan ke dalam perang paling berbahaya dalam beberapa dekade. Dengan Ali Khamenei yang telah tewas dan ultimatum 48 jam Trump untuk menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka, skenario eskalasi masih terbuka lebar bagi semua kemungkinan. (zarahamala/arrahmah.id)
