BEIRUT (Arrahmah.id) -- Pemimpin Hizbullah menyerukan kepada para anggotanya untuk terus berperang melawan Amerika Serikat dan 'Israel' hingga titik darah penghabisan. Seruan tersebut disampaikan dalam pidato terbaru di tengah meningkatnya konflik regional setelah serangan militer AS dan 'Israel' terhadap Iran memicu eskalasi perang di Timur Tengah.
Dilansir Long War Journal (5/3/2026), Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem dalam pidato televisi pada awal Maret 2026 menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menyerah atau meletakkan senjata. Ia menyatakan Hizbullah akan terus bertempur sampai mencapai kemenangan atau gugur di medan perang, serta menegaskan bahwa kelompoknya siap menghadapi konflik yang lebih luas dengan 'Israel' dan sekutunya.
Menurut analisis Long War Journal, Qassem menggambarkan serangan roket dan drone Hizbullah ke wilayah 'Israel' sebagai bentuk “pertahanan eksistensial” terhadap apa yang disebutnya sebagai rencana perang penghancuran terhadap Lebanon. Ia menekankan bahwa organisasi tersebut tidak akan menghentikan operasi militer atau melucuti persenjataan meskipun menghadapi tekanan internasional.
Pidato tersebut muncul setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone dari Lebanon selatan ke Israel pada 2 Maret 2026, yang kemudian memicu serangan balasan 'Israel' ke sejumlah wilayah di Lebanon. Serangan tersebut merupakan eskalasi terbaru setelah konflik kawasan meningkat akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan 'Israel'.
Reuters juga melaporkan bahwa Hizbullah telah mengerahkan kembali pasukan elit Radwan ke Lebanon selatan untuk menghadapi kemungkinan operasi militer 'Israel'. Langkah ini menandai keterlibatan lebih dalam kelompok tersebut dalam konflik regional yang semakin meluas.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menentang keterlibatan Hizbullah dalam perang tersebut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam bahkan melarang organisasi tersebut melakukan operasi militer dari wilayah Lebanon karena dinilai dapat menyeret negara itu ke dalam perang regional yang lebih besar.
Ketegangan antara 'Israel' dan Hizbullah juga meningkat setelah 'Israel' melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Beirut yang menjadi basis kuat kelompok tersebut. Serangan dan balasan yang terus terjadi meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik lokal dapat berkembang menjadi perang besar di kawasan Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
