SANA'A (Arrahmah.id) - Kelompok Ansarullah (Houtsi) di Yaman menyatakan bahwa keputusan untuk terlibat langsung dalam perang melawan Amerika Serikat dan 'Israel' sepenuhnya merupakan kedaulatan mereka, bukan atas perintah Teheran. Meski demikian, pemerintah Yaman melaporkan bahwa jalur pasokan logistik dan militer dari Iran ke kelompok tersebut masih beroperasi secara intensif tanpa terpengaruh oleh berkecamuknya perang di daratan Iran.
Tiga pejabat Houtsi yang berbicara kepada Associated Press pada Kamis (26/3/2026) menegaskan bahwa meskipun mereka mendukung Iran sebagai sekutu bersejarah dan religius, keputusan untuk turun ke medan tempur akan diambil pada waktu yang mereka anggap tepat.
Laporan dari saluran Press TV Iran menyebutkan bahwa pasukan Houtsi berada dalam kondisi siaga maksimal sejak Operasi Epic Fury pecah pada 28 Februari lalu. Mereka mengeklaim memiliki kemampuan militer untuk melakukan intervensi guna mendukung poros sekutu di kawasan kapan pun diperlukan.
Iran dan Houtsi kembali memberikan sinyal kuat mengenai kemampuan mereka menutup Selat Bab al-Mandab. Misi ini dianggap strategis untuk menekan ekonomi global, mengingat jalur ini sebelumnya melayani pengiriman barang senilai US$1 triliun per tahun sebelum krisis pecah.
Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, mengungkapkan bahwa jaringan penyelundupan Iran masih bekerja dengan ritme tinggi. Pemerintah Yaman melaporkan telah menyita sebuah kapal di lepas pantai Bab al-Mandab pada Rabu (25/3) yang diduga membawa material selundupan dari Iran.
Pemerintah Yaman kini berupaya keras menghentikan pasokan bahan dual-use (material yang bisa digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer) dari Iran guna melemahkan kemampuan logistik Houtsi yang sering digunakan untuk menyerang kapal dagang dan target di 'Israel'.
Penutupan Bab al-Mandab kini tidak hanya dilihat sebagai isu militer, tetapi juga sebagai alat pemerasan" global terhadap keamanan energi dan rantai pasok internasional di tengah perang yang telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Keterlibatan Houthi dalam perang ini bisa menjadi faktor "pengalih perhatian" yang sangat efektif bagi AS dan 'Israel'. Jika Houthi memutuskan untuk membuka front baru di Laut Merah, fokus militer AS yang saat ini terkonsentrasi di daratan Iran akan terbagi, sehingga memberikan ruang napas bagi Teheran untuk melakukan serangan balasan dari wilayah lain. (zarahamala/arrahmah.id)
