Memuat...

Syeikh Ikrimah Sabri: 'Israel' Gunakan 600 Pos Militer untuk Halangi Jemaah ke Al-Aqsha

Zarah Amala
Kamis, 19 Februari 2026 / 2 Ramadan 1447 10:45
Syeikh Ikrimah Sabri: 'Israel' Gunakan 600 Pos Militer untuk Halangi Jemaah ke Al-Aqsha
Imam Al-Aqsha Syeikh Ikrimah Sabri (Al Jazeera)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsha, Syeikh Ikrimah Sabri, memperingatkan adanya eskalasi tindakan represif otoritas 'Israel' seiring dimulainya bulan suci Ramadhan. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Syeikh Sabri menegaskan bahwa 'Israel' tengah berupaya "memaksakan realitas baru dengan kekerasan" melalui pembatasan akses bagi umat Muslim sekaligus memperluas ruang bagi kelompok ekstremis Yahudi.

Syeikh Sabri mengungkapkan bahwa selama bulan Sya'ban atau menjelang Ramadhan, otoritas pendudukan telah mengeluarkan perintah pengusiran terhadap lebih dari 100 pemuda Yerusalem, yang melarang mereka memasuki kompleks Al-Aqsha. Selain itu, 'Israel' dilaporkan mengancam akan melarang pemasangan dekorasi dan simbol perayaan Ramadhan di Yerusalem.

"Bahkan ada sebuah yayasan di Yerusalem yang ditutup hanya karena memasang dekorasi Ramadhan dan mencoba menyalakan lampion tradisional (fanoos). Ini sangat kontras dengan perlakuan terhadap ekstremis Yahudi yang diizinkan menyerbu Al-Aqsha, bahkan diberikan tambahan waktu satu jam dari durasi kunjungan biasanya," ujar Syeikh Sabri. Ia menambahkan bahwa aktivitas kelompok Yahudi yang melakukan ritual Talmud di dalam kompleks masjid telah memicu ketegangan besar.

Blokade Fisik dan Syarat Berlapis

Terkait pengumuman 'Israel' yang memberikan kuota 10.000 jemaah, Syeikh Sabri menjelaskan bahwa aturan tersebut dikhususkan bagi warga Tepi Barat dengan syarat yang sangat memberatkan, yakni harus memiliki izin keamanan khusus dan usia minimal 55 tahun.

Ia menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha sebenarnya mampu menampung hingga 500.000 jemaah. Namun, 'Israel' secara sistematis menghalangi arus jemaah melalui lebih dari 600 pos pemeriksaan militer yang tersebar di Tepi Barat. "Pendudukan tidak ingin melihat ratusan ribu orang berkumpul di Al-Aqsha, karena kehadiran massa adalah bukti nyata bahwa Al-Aqsha adalah milik umat Islam," tegasnya.

Syeikh Sabri juga menyoroti tindakan provokatif pasukan keamanan 'Israel' yang berpatroli di dalam masjid saat salat Tarawih berlangsung untuk memeriksa identitas jemaah muda. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menakut-nakuti dan mencegah warga hadir ke masjid.

Selain masalah akses, ia menyampaikan kekhawatiran serius terkait penggalian di bawah dan sekitar Al-Aqsha, terutama di area Silwan. Syeikh Sabri menjelaskan bahwa kanal-kanal air bersejarah dari era Islam dan Mamluk telah diperluas oleh 'Israel' dengan dalih mencari situs arkeologi kuno.

"Mereka tidak menemukan satu batu pun yang membuktikan narasi sejarah mereka, namun penggalian ini telah menyebabkan keretakan pada dinding barat dan selatan Al-Aqsha, serta merusak bangunan bersejarah yang menempel pada masjid," pungkasnya. (zarahamala/arrahmah.id)