MISRATA (Arrahmah.com) - Pasukan pemerintah Libya telah menggunakan pesawat untuk menjatuhkan bom pada tangki penyimpanan minyak di Misrata, menurut juru bicara gerakan pemberontak, Sabtu (7/5/2011).
Ahmed Hassan mengklaim bahwa pasukan yang loyal pada Gaddafi telah menggunakan pesawat yang dirancang untuk menembakkan senjata, menentang zona larangan terbang, serta menghancurkan beberapa unit tangki bahan bakar.
Dalam resolusi PBB 1973, tidak ada satu pun pesawat yang diizinkan untuk terbang di wilayah udara Libya kecuali pesawat NATO yang mengklaim bertugas untuk menegakkan resolusi demi memberikan perlindungan bagi warga sipil.
Sehari sebelumnya, Jumat (6/5), kelompok HAM Amnesty International mengatakan bahwa pengepungan yang terjadi di kota Misrata memperlihatkan terjadinya kejahatan perang yang tidak sepele.
"Skala serangan tanpa henti yang kami lihat melalui aksi pasukan Gaddafi dalam mengintimidasi penduduk Misrata selama lebih dari dua bulan benar-benar mengerikan," kata penasihat Amnesty, Donatella Rovera.
"Hal ini menunjukkan adanya pengabaian terhadap kehidupan warga sipil dan jelas melanggar hukum kemanusiaan internasional," katanya.
"Masyarakat internasional harus memberikan semua dukungan yang mungkin, baik itu keuangan maupun hal lainnya, kepada badan-badan berusaha untuk mengadili mereka yang harus bertanggung jawab bagi kejahatan kemanusiaan."
Sementara itu, di London, perdana menteri Inggris David Cameron telah membahas situasi Libya dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy melalui telepon.
"Perdana Menteri telah berbicara dengan Presiden Sarkozy malam mengenai upaya masyarakat internasional untuk melindungi warga sipil di Libya," kata salah seorang pejabat Inggris.
"Mereka setuju untuk memprioritaskan tekanan militer, politik, dan ekonomi, demi mengisolasi rezim Gaddafi," lanjutnya
"Para pemimpin juga menegaskan bahwa keberangkatan Gaddafi merupakan langkah yang penting untuk memastikan bahwa Libya akan menjadi stabil dan damai, serta memungkinkan masyarakat Libya untuk menentukan masa depan mereka sendiri." (althaf/arrahmah.com)
