AUCKLAND (Arrahmah.com) - Perdana menteri Selandia Baru, John Key, menyatakan bahwa muslimah yang mengenakan niqab tidak seharusnya menghadapi diskriminasi. Pernyataan ini dilontarkan sang perdana menteri setelah dua perempuan Saudi diturunkan secara paksa dari dalam bus yang mereka tumpangi hanya karena mereka mengenakan niqab.
Diplomat Saudi di negara yang memiliki sejarah panjang kebencian terhadap non-kulit putih ini segera berkonsultasi dengan pemerintah setelah dua insiden diskriminasi terpisah di Auckland, surat kabar Dominion Post melaporkan.
Seorang mahasiswi asal Saudi Arabia yang menangis di jalan setelah sopir bus berteriak "Keluar!" dan kemudian menutup pintu bis dan meninggalkan muslimah itu di tengah perjalanannya.
"Saya pikir, orang harus menghormati kebudayaan serta keyakinan orang lain," kata Key.
"Sebetulnya ada alasan teknis mengapa kadang-kadang burqa tidak boleh dikenakan - di bank misalnya - demi alasan keamanan. Tetapi bagi sebagian besar kami yang merupakan masyarakat multikultural, kami harus menghormati kepercayaan dan budaya yang lain."
Perancis menjadi negara pertama di Eropa yang telah menerapkan larangan rasis terhadap burqa atau niqab, yang dimulai pada bulan April lalu.
Operator bus terbesar di Selandia Baru, NZ Bus, yang terlibat dalam kedua insiden Auckland itu, mengatakan bahwa dua sopir bis yang melakukan pengusiran terhadap dua muslimah itu tidak diberhentikan karena tindakan mereka diklaim tidak bermotifkan agama.
"Kedua sopir itu tidak melakukan hal tersebut dengan motif agama, tapi mereka benar-benar memiliki fobia terhadap orang yang memakai topeng. Itulah sebabnya kami tidak memecat mereka," kata manajer umum NZ Bus, Jon Calder.
Pada saat yang sama, duta besar Arab Saudi di Auckland menolak memberikan komentar. (althaf/arrahmah.com)
Perdana Menteri Selandia Baru: Niqab bukan dalih untuk mendiskriminasi
Althaf
Rabu, 6 Juli 2011 / 5 Syakban 1432 19:46
