Memuat...

62 Warga Palestina yang Mencari Bantuan, Dibunuh oleh Pasukan Zionis sejak Fajar

Hanin Mazaya
Ahad, 3 Agustus 2025 / 10 Safar 1447 17:02
62 Warga Palestina yang Mencari Bantuan, Dibunuh oleh Pasukan Zionis sejak Fajar
(Foto: Getty Images)

GAZA (Arrahmah.id) - Enam puluh dua warga Palestina, sebagian besar pencari bantuan, tewas akibat tembakan "Israel" di Gaza sejak Sabtu dini hari, ungkap sumber rumah sakit di wilayah kantong yang terkepung tersebut kepada Al Jazeera.

Jumlah korban tewas tersebut mencakup 38 warga Palestina yang mencari bantuan di lokasi distribusi yang dioperasikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial, didukung Amerika Serikat dan "Israel".

Kematian ini merupakan pembunuhan terbaru yang dilaporkan di dekat lokasi yang dioperasikan GHF, meskipun "Israel" mengumumkan pekan lalu bahwa mereka akan mulai menerapkan "jeda taktis" dalam pertempuran di beberapa wilayah untuk memungkinkan warga Palestina mendapatkan akses yang lebih besar terhadap bantuan kemanusiaan, lansir Al Jazeera (3/8/2025).

"Israel" mengumumkan dimulainya jeda harian dalam operasi militer pada 27 Juli. Namun, 105 warga Palestina tewas saat mencari makanan pada Rabu dan Kamis saja, ungkap Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di wilayah Palestina yang diduduki pada Jumat.

Hingga Jumat, setidaknya 1.373 warga Palestina telah tewas saat mencoba mengakses bantuan, menurut kantor hak asasi manusia tersebut.

Sebanyak 169 warga Palestina lainnya, termasuk 93 anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan atau malnutrisi sejak dimulainya perang "Israel" pada Oktober 2023, menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza.

Warga Palestina di wilayah kantong tersebut telah melaporkan banyak kasus tentara Israel dan kontraktor keamanan Amerika yang disewa oleh GHF secara sengaja menembaki para pencari bantuan di sekitar lokasi distribusi.

Menghadapi kecaman internasional yang semakin meningkat atas kondisi di Gaza, "Israel" dalam beberapa hari terakhir mengizinkan pengiriman bantuan melalui udara ke wilayah kantong tersebut oleh negara-negara termasuk Yordania, Uni Emirat Arab, Mesir, Spanyol, Jerman, dan Prancis.

Namun, kelompok-kelompok kemanusiaan, termasuk badan bantuan PBB untuk Palestina, UNRWA, telah memperingatkan bahwa pengiriman bantuan melalui udara tersebut tidak mencukupi dan mendesak "Israel" untuk memfasilitasi aliran bantuan bebas melalui jalur darat.

Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan bahwa hanya 36 truk bantuan yang memasuki wilayah kantong itu pada Sabtu, jauh dari 600 truk yang dikatakan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan penduduk.

Di Khan Younis, seorang staf Bulan Sabit Merah Palestina tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan "Israel" di kantor pusatnya, menurut kelompok bantuan tersebut.

“Seorang staf Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) tewas dan tiga lainnya luka-luka setelah pasukan 'Israel' menyerang kantor pusat Lembaga tersebut di Khan Younis, yang memicu kebakaran di lantai pertama gedung tersebut,” kata PRCS dalam sebuah unggahan di X pada Sabtu.

Laporan Al Jazeera mengatakan bahwa warga Palestina belum melihat adanya perbaikan dalam situasi mereka meskipun ada pengiriman bantuan baru-baru ini.

Philippe Lazzarini, kepala UNRWA, pada Sabtu mengatakan Gaza sedang mengalami kelaparan yang "sebagian besar dibentuk" oleh upaya untuk mengganti sistem bantuan yang dipimpin PBB dengan GHF yang "bermotif politik".

"Mengesampingkan & melemahkan UNRWA tidak ada hubungannya dengan klaim pengalihan bantuan ke kelompok bersenjata. Ini adalah tindakan yang disengaja untuk secara kolektif menekan & menghukum warga Palestina karena tinggal di Gaza," kata Lazzarini dalam sebuah unggahan di X.

UNICEF telah memperingatkan bahwa malnutrisi di Gaza telah melampaui ambang batas kelaparan, dengan 320.000 anak kecil di antara mereka yang berisiko mengalami malnutrisi akut.

"Kita berada di persimpangan jalan, dan pilihan yang dibuat sekarang akan menentukan apakah puluhan ribu anak akan hidup atau mati," kata Ted Chaiban, wakil direktur eksekutif UNICEF untuk aksi kemanusiaan dan operasi pasokan, dalam sebuah pernyataan pada Jumat setelah kunjungan baru-baru ini ke "Israel", Gaza, dan Tepi Barat yang diduduki.  (haninmazaya/arrahmah.id)