Memuat...

71 Anak Palestina Tewas, Mekanisme Distribusi Bantuan 'Israel'-AS Disebut “Perangkap Kematian”

Zarah Amala
Senin, 21 Juli 2025 / 26 Muharam 1447 09:49
71 Anak Palestina Tewas, Mekanisme Distribusi Bantuan 'Israel'-AS Disebut “Perangkap Kematian”
Blokade 'Israel' picu kematian 71 anak Gaza akibat malnutrisi (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Setidaknya 71 anak Palestina telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi, di tengah blokade 'Israel' yang terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang hancur dilanda perang. Situasi darurat ini memunculkan peringatan keras bahwa Gaza kini berada di “ambang bencana kelaparan yang mematikan.”

Kementerian Kesehatan Palestina pada Ahad (20/7/2025) melaporkan bahwa tingkat kelaparan di Gaza telah mencapai tahap “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Mereka menegaskan bahwa 'Israel' menggunakan “kelaparan sebagai senjata perang” terhadap rakyat Palestina.


“Anak-anak sekarat karena kelaparan di tengah diamnya dunia. Sebanyak 71 anak telah meninggal akibat malnutrisi. Banyak pasien penderita diabetes, penyakit jantung, dan ginjal yang tidak mendapat makanan dan obat-obatan, dan kini terancam nyawa,” tulis pernyataan Kementerian.


Pada Sabtu (19/7), dua anak, Yahya Al-Najjar dan bayi berusia 35 hari Jawad Al-Anqar, meninggal akibat kelaparan. Keesokan harinya, seorang balita berusia empat tahun, Razan Abu Zaher, juga wafat karena komplikasi malnutrisi dan kelaparan. Ia mengalami atrofi otak dan kekurangan gizi parah setelah 'Israel' terus memblokir masuknya susu terapeutik yang vital bagi kondisinya. Keluarganya sebelumnya sudah memohon agar Razan diizinkan keluar Gaza untuk mendapat pengobatan sebelum terlambat.


Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa ribuan warga Gaza kini “berada di ambang kelaparan bencana,” dengan satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari.


Pejabat kesehatan di Gaza memperingatkan bahwa ratusan warga Palestina yang sangat kurus dan melemah berada di ambang kematian. Tubuh mereka terlalu lemah untuk melawan.


Direktur Rumah Sakit Al-Shifa menyebut bahwa rumah sakit kini merawat ratusan pasien dengan kondisi kelaparan dan malnutrisi parah. “Kami kekurangan tempat tidur dan obat-obatan,” katanya. “Kami melihat gejala seperti kehilangan ingatan, kelelahan, dan kolaps akibat kelaparan ekstrem.” Ia menambahkan, “Kami memiliki 17.000 anak yang menderita malnutrisi parah. Ini adalah generasi yang sedang dibunuh dengan kelaparan.”


Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 650.000 anak di bawah usia lima tahun menghadapi risiko tinggi terkena malnutrisi akut dalam beberapa minggu ke depan dari total 1,1 juta anak di Jalur Gaza.


Saat ini, sekitar 1,25 juta orang di Gaza hidup dalam kondisi kelaparan yang sangat parah, dan 96% populasi mengalami ketidakamanan pangan berat, termasuk lebih dari satu juta anak, menurut laporan yang sama.


UNRWA pada Ahad (20/7) memperingatkan, “Otoritas 'Israel' membuat warga sipil Gaza kelaparan. Di antara mereka terdapat satu juta anak-anak.”


Sekjen Palang Merah Internasional, Jagan Chapagain, menyebut bahwa warga Gaza menghadapi “risiko kelaparan akut.” Ia menegaskan, “Tak seorang pun seharusnya mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan bantuan kemanusiaan dasar.”


Sejak 2 Maret, 'Israel' menutup semua perlintasan utama ke Gaza, memutus suplai makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan bagi 2,3 juta warga Palestina. Organisasi HAM menuduh 'Israel' dengan sengaja menggunakan kelaparan sebagai alat perang.


Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) pada Mei lalu sudah memperingatkan bahwa hampir seperempat populasi sipil di Gaza akan mengalami kelaparan bencana (IPC Tahap Lima) dalam beberapa bulan mendatang.


Setelah lebih dari 80 hari blokade total dan meningkatnya kemarahan dunia, bantuan mulai didistribusikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi kontroversial yang didukung AS dan 'Israel'. GHF dibentuk untuk memotong peran lembaga-lembaga PBB dalam distribusi bantuan, namun mendapat kritik luas karena membatasi bantuan hanya untuk wilayah selatan dan tengah Gaza, memaksa warga berjalan jauh, dan menyediakan bantuan dalam jumlah sangat terbatas.


Hampir semua lembaga kemanusiaan besar, termasuk PBB, menjauh dari GHF karena pelanggaran prinsip-prinsip kemanusiaan. Mereka juga menilai bahwa skema GHF justru memperparah pengungsian paksa warga Gaza.


PBB mengonfirmasi bahwa 'Israel' masih memblokir makanan dari menjangkau warga yang kelaparan. Hanya beberapa truk bantuan yang berhasil masuk.


Di sisi lain, pembunuhan massal terhadap pencari bantuan di sekitar titik distribusi GHF kini menjadi pemandangan harian yang mengerikan. Warga Gaza dan pejabat PBB menyebut lokasi-lokasi ini sebagai “perangkap kematian massal” dan “rumah jagal.”


Sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei, lebih dari 900 pencari bantuan tewas dibunuh oleh pasukan 'Israel' dan tentara bayaran Amerika, dan lebih dari 6.000 orang lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Sebanyak 46 orang juga dilaporkan hilang setelah pergi mencari bantuan makanan ke lokasi-lokasi GHF.


Doctors Without Borders (MSF) menyatakan bahwa cara pendistribusian bantuan yang digunakan saat ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. “Setiap hari, warga Palestina disambut dengan pembantaian saat mencoba mendapatkan sedikit bantuan,” kata MSF.


Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengecam mekanisme distribusi bantuan buatan AS-'Israel' sebagai “mematikan.” Dalam sebuah pernyataan di X, ia menyatakan bahwa nyawa warga Palestina “telah begitu diremehkan.”


“Sudah menjadi kebiasaan menembak dan membunuh orang-orang yang kelaparan saat mereka mencoba mengambil sedikit makanan dari perusahaan yang dijalankan oleh tentara bayaran,” tulisnya. “Mengundang orang-orang yang kelaparan untuk mati adalah kejahatan perang. Mereka yang bertanggung jawab atas sistem ini harus diadili. Ini adalah aib dan noda di hati nurani kita bersama.”


Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengecam skema distribusi bantuan yang didukung AS tersebut sebagai “berbahaya secara inheren” dan “telah membunuh orang.”


“Operasi yang mengarahkan warga sipil putus asa ke zona militer tidak pernah aman. Itu membunuh orang,” kata Guterres. Ia menegaskan bahwa upaya kemanusiaan yang dipimpin PBB saat ini sedang “dicekik” dan bahkan para pekerja bantuan pun ikut kelaparan.


“Orang-orang dibunuh hanya karena mencoba memberi makan diri dan keluarga mereka. Mencari makanan tidak boleh menjadi vonis mati,” ujarnya.


Sebuah laporan Haaretz mengungkap bahwa para komandan militer 'Israel' memerintahkan pasukan mereka untuk menembaki kerumunan warga yang menunggu makanan di sekitar lokasi GHF, meski mereka tidak menimbulkan ancaman apa pun.


“Tempat ini ladang pembantaian,” kata salah satu tentara. “Di pos saya, setiap hari antara satu hingga lima orang dibunuh. Mereka diperlakukan seperti musuh, tanpa gas air mata, tanpa upaya pengendalian massa, hanya tembakan langsung dengan semua jenis senjata: senapan mesin berat, pelontar granat, mortir. Begitu pusat bantuan dibuka, tembakan berhenti, dan mereka tahu mereka bisa mendekat. Bentuk komunikasi kami adalah peluru.”


Dalam pernyataan baru-baru ini, militer 'Israel' bahkan mengakui bahwa pasukannya “melukai” warga sipil Palestina di titik distribusi bantuan GHF. Mereka mengklaim telah mengeluarkan “instruksi lapangan baru” berdasarkan “pelajaran yang dipetik.”


Sementara itu, laporan investigatif Associated Press dengan rekaman bocor menunjukkan bahwa kontraktor Amerika yang bekerja di lokasi bantuan GHF menggunakan peluru tajam, granat kejut, dan semprotan merica terhadap warga Palestina kelaparan yang mencoba mengambil makanan. (zarahamala/arrahmah.id)