KABUL (Arrahmah.id) - Zamir Kabulov, utusan khusus Rusia untuk Afghanistan, mengatakan bahwa Moskow telah mengakui Imarah Islam Afghanistan untuk memperluas kerja sama dalam memerangi terorisme dan perdagangan narkoba.
Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Rusia, Kabulov menyatakan bahwa keterlibatan ekonomi antara Kabul dan Moskow telah dimulai, dan bahwa pengakuan resmi dari pemerintah sementara diperlukan untuk melegalkan proses ini sepenuhnya.
Ia mengatakan: "Pertama-tama, Afghanistan penting dalam arti bahwa kita memiliki kekhawatiran yang terkenal tentang terorisme yang dulunya berasal dari Afghanistan. Kedua, ada masalah perdagangan narkoba. Karena kami menemukan bahwa rezim saat ini melakukan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini, maka menjadi penting untuk mempertahankan kemitraan yang erat dengan pemerintah Afghanistan. Selain itu, kami telah mulai menjalin kerja sama ekonomi dengan pihak berwenang Afghanistan. Namun, agar kerja sama ini lengkap secara hukum, kami perlu mengakui pemerintah di sana."
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa mereka telah mencatat pengakuan Rusia terhadap Imarah Islam dan menganggap hubungan antara Rusia dan Afghanistan sebagai masalah antara dua negara berdaulat, lansir Tolo News (5/7/2025).
Shafqat Ali Khan, juru bicara kementerian luar negeri Pakistan, mengatakan: "Hubungan Rusia-Afghanistan adalah masalah antara dua negara berdaulat. Kami telah mencatat pengakuan Rusia."
Beberapa analis percaya bahwa langkah Rusia untuk mengakui Imarah Islam dapat meningkatkan legitimasi politik pemerintah sementara di tingkat regional.
Fazl-ur-Rahman Oria, seorang analis politik, mengatakan: "Ini adalah sebuah proses, salah satunya adalah mengakui Imarah Islam Afghanistan dimana Rusia telah memimpin. Secara bertahap, negara-negara Timur lainnya juga akan mengakui Afghanistan dan pemerintahan Islamnya."
Duta Besar Imarah Islam Afghanistan di Qatar juga menyambut baik keputusan Rusia, dengan mengatakan bahwa negara tersebut telah menjauhkan diri dari negara-negara yang sejauh ini menahan pengakuan demi pengaruh politik.
Suhail Shaheen menyatakan harapannya bahwa negara-negara “yang berpikiran sama” akan mengikuti langkah Moskow dan mengambil langkah-langkah menuju keterlibatan politik dengan Afghanistan. Dia menggambarkan pengakuan Rusia sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi Kabul dan Moskow.
Ia mengatakan: "Dengan langkah ini, Federasi Rusia telah menjauhkan diri dari negara-negara yang selama ini menggunakan tekanan politik untuk tidak mengakui Emirat Islam. Diharapkan sekutu-sekutu Rusia lainnya akan mengikutinya."
Sementara itu, seorang juru bicara Kremlin kemarin mengumumkan bahwa Presiden Vladimir Putin tidak memiliki rencana untuk melakukan pembicaraan langsung dengan pimpinan ImarahIslam, namun menegaskan bahwa komunikasi di berbagai tingkatan akan terus berlanjut. (haninmazaya/arrahmah.id)
