GAZA (Arrahmah.id) – Ketika Brigade Izzuddin Al-Qassam mengunci jebakan mematikan untuk pasukan 'Israel' di kota Beit Hanoun, utara Jalur Gaza, ledakan demi ledakan mengguncang arena yang jauh dari garis pertempuran: ruang perundingan di Doha, Qatar.
Di saat para negosiator dari Hamas dan 'Israel' tengah duduk bersama melalui mediasi Qatar dan Mesir untuk membahas gencatan senjata, berita mendadak datang menghantam pusat kendali: lima tentara 'Israel' tewas, dan 14 lainnya luka-luka, dua di antaranya kritis, akibat operasi kompleks yang diluncurkan Hamas Senin malam (7/7/2025).
Serangan itu terjadi bersamaan dengan pertemuan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu, yang saat ini menghadapi tuduhan kejahatan perang di Mahkamah Pidana Internasional, dengan utusan Timur Tengah Amerika Serikat, Stephen Witkoff, di Gedung Putih.
Perlawanan Negosiasi: Senjata di Satu Tangan, Pena di Tangan Lain
Pakar militer dan keamanan Rami Abu Zubaidah menyebut serangan Beit Hanoun sebagai bukti nyata bahwa Hamas tidak datang ke meja perundingan dengan tangan kosong.
Dalam komentarnya kepada Al Jazeera Net, ia merinci pesan strategis dari operasi ini:
-
Perlawanan masih memiliki kartu kekuatan, dan 'Israel' belum juga mampu menundukkan medan tempur meski sudah lebih dari 21 bulan berperang.
-
Narasi keunggulan militer 'Israel' dipatahkan lagi oleh jebakan-jebakan cerdas, seperti RPG dan ranjau, yang terus menjatuhkan korban di garis depan.
-
Kemenangan lapangan menunjukkan bahwa Hamas tidak bernegosiasi dari posisi lemah, melainkan dari pijakan kuat dan inisiatif.
-
Setiap keberhasilan militer justru memperkuat dukungan rakyat di Gaza terhadap perlawanan, dan memperlemah tekanan internasional pada faksi-faksi Palestina.
Tak lama setelah serangan Beit Hanoun, juru bicara Al-Qassam Abu Ubaida menegaskan melalui Telegram:
“Operasi ini adalah hantaman langsung ke kesombongan tentara penjajah, di kawasan yang mereka kira sudah aman karena telah mereka ratakan dengan tanah.”
Menggoyang Militer dan Politikus
Analis politik Iyad Al-Qara menilai bahwa keberhasilan operasi Hamas di Beit Hanoun, yang terjadi berdekatan dengan operasi serupa di Khan Yunis, bisa mendorong militer 'Israel' untuk menekan pemerintah agar segera menyepakati gencatan senjata.
Menurutnya, perlawanan yang masih aktif di wilayah-wilayah yang sudah hancur dan kosong dari penduduk membantah klaim 'Israel' bahwa mereka telah menguasai 70% wilayah Gaza. Bahkan, Kepala Staf IDF Eyal Zamir sendiri mengakui bahwa 'Israel' tak mampu bertahan lama di wilayah Gaza.
Al-Qara menambahkan bahwa keberhasilan seperti ini akan mempersulit militer untuk terus dipaksa menetap di Gaza oleh pemerintah, terutama di sepanjang wilayah perbatasan seperti Koridor Morag (antara Khan Yunis dan Rafah). Ini bisa mempercepat kesepakatan kembali ke garis batas sebelum eskalasi terakhir pada Maret lalu.
"Jika Hamas berhasil menangkap tentara 'Israel' hidup-hidup dalam waktu dekat, itu akan menjadi faktor penentu dalam negosiasi gencatan senjata," tambahnya.
Dalam pernyataan lain, Abu Ubaida menyebut bahwa jika IDF beruntung berhasil menyelamatkan tentaranya kali ini, mereka mungkin tak seberuntung itu di lain waktu, dan bisa saja perlawanan mendapatkan tawanan baru.
Reaksi 'Israel': Tudingan dan Ketakutan
Di dalam 'Israel', serangan Beit Hanoun telah menciptakan gempa politik. Mayor Jenderal (Purn.) Eliezer Marom menyarankan agar pemerintah segera membuat kesepakatan damai. Ia menyatakan bahwa kelompok pejuang Palestina menguasai medan jauh lebih baik daripada pasukan 'Israel', dan perang gerilya yang mereka lancarkan akan sangat menyulitkan.
Radio Tentara 'Israel' melaporkan bahwa wilayah tempat terjadinya jebakan sudah dikuasai penuh oleh IDF selama lebih dari setahun, termasuk dalam masa gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Namun, menurut jurnalis militernya, taktik Hamas telah berkembang:
“Mereka tak lagi hanya menanam ranjau lalu kabur. Mereka kini keluar dari reruntuhan dan terowongan, menghadang pasukan dari jarak dekat, dan melancarkan serangan langsung dengan presisi tinggi.”
Netanyahu dalam Tekanan
Menurut pakar 'Israel', Mo’men Maqdad, insiden ini membuat sejumlah politisi 'Israel' dari koalisi kanan hingga oposisi mulai angkat suara: mereka mendesak agar pasukan ditarik dari Gaza.
Beberapa anggota Knesset menyalahkan Netanyahu langsung, menyebut bahwa operasi “Gideon Chariots” (Kereta Perang Gideon) telah menewaskan lebih banyak tentara daripada jumlah tawanan hidup yang seharusnya diselamatkan oleh pemerintahannya.
Netanyahu terus berbicara tentang “kemenangan total”, namun opini publik dan tekanan politik kini mulai berbalik arah. Menurut Maqdad, Hamas kini sedang memburu tawanan baru, karena dampak psikologis dan politiknya sangat besar bagi 'Israel'.
Sejak Maret 2025, menurut data Radio Militer 'Israel', 38 tentara telah tewas, dengan 27 di antaranya terbunuh akibat ranjau, dan 6 lainnya tewas dalam ledakan bangunan tempat mereka berlindung. (zarahamala/arrahmah.id)
