GAZA (Arrahmah.id) - Para mediator pada Rabu (8/10/2025) mengumumkan tercapainya kesepakatan antara 'Israel' dan Hamas untuk menghentikan perang di Jalur Gaza, disertai pertukaran tawanan antara kedua pihak. Pada Jumat pagi (10/10), pemerintah 'Israel' secara resmi menyetujui kesepakatan tersebut.
Perjanjian itu membuka jalan bagi penghentian serangan 'Israel' di Gaza dalam waktu 24 jam, serta pembebasan tawanan 'Israel' dalam kurun 72 jam setelahnya.
Kesepakatan ini merupakan tahap pertama dari rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang, yang juga mencakup penarikan pasukan 'Israel' hingga ke “garis yang telah disepakati.”
Antara Lega dan Luka yang Belum Sembuh
Warga Gaza menyambut pengumuman ini dengan perasaan campur aduk, antara kelegaan, sukacita, dan kesedihan yang mendalam.
Bagi banyak orang, ini adalah kesempatan untuk sekadar bernapas, jeda dari dua tahun penuh teror, kelaparan, dan pengungsian.
“Dua tahun yang panjang dan mengerikan! Seperti mimpi buruk. Kami kehilangan segalanya, kami kelaparan, dibunuh, diserang, dan dipermalukan. Alhamdulillah, akhirnya mesin pembunuh 'Israel' akan berhenti,” ujar Um Saleh kepada QNN.
Sebagian warga bahkan merayakan gencatan senjata itu, meski diiringi air mata kehilangan.
Aya Ismail, seorang ibu dua anak yang kehilangan suaminya di bulan-bulan awal perang, berkata, “Saya merayakan ini bersama anak-anak untuk mengenang ayah mereka. Semoga ia tenang di sisi Allah. Andai saja ia masih di sini bersama kami. Tapi ia dibunuh 'Israel' saat berjalan di jalan dengan damai.”
Ia menambahkan, “Yang terpenting sekarang adalah genosida ini berhenti, demi anak-anak ini.”
Di beberapa jalan Gaza, warga terlihat turun ke jalan, melantunkan takbir dan zikir, sebagian menari dan bersorak di tengah reruntuhan.
Namun di balik kebahagiaan itu, masih ada luka yang dalam: kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan.
Sebagian warga juga masih berhati-hati, sadar bahwa banyak gencatan senjata sebelumnya dilanggar oleh 'Israel'. “Dua tahun kami menunggu gencatan senjata, berharap ada satu saja pemimpin dunia yang mau menghentikan serangan 'Israel' dan menyelamatkan kami. Dua tahun menunggu, hanya untuk melihat gencatan senjata dilanggar di depan mata,” kata Sarah Saidam, seraya menambahkan, “Tapi kami tidak pernah kehilangan iman kepada Allah.” (zarahamala/arrahmah.id)
