Memuat...

Bentrokan Hebat di Tel Aviv: Polisi Bentrok dengan Demonstran, Kelompok Bersenjata Kanan Ekstrem Lontarkan Ancaman

Samir Musa
Ahad, 10 Agustus 2025 / 17 Safar 1447 11:46
Bentrokan Hebat di Tel Aviv: Polisi Bentrok dengan Demonstran, Kelompok Bersenjata Kanan Ekstrem Lontarkan Ancaman
Demonstrasi malam ini di Tel Aviv berubah menjadi bentrokan hebat dengan polisi (Reuters)

TEL AVIV (Arrahmah.id) — Media lokal melaporkan terjadinya bentrokan fisik antara polisi “Israel” dan demonstran di Tel Aviv pada Sabtu (9/8/2025). Massa menuntut diakhirinya agresi militer di Gaza dan mendesak dilakukannya kesepakatan pertukaran tawanan.

Para pengunjuk rasa dilaporkan memblokade Jalan Raya Ayalon, salah satu jalur utama Tel Aviv, dengan membakar ban sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Situasi memanas ketika sejumlah demonstran yang marah menerobos masuk ke studio Channel 13 saat siaran program populer sedang berlangsung, menuntut penghentian perang dan pemulangan para tawanan.

Polisi “Israel” mengerahkan pasukan berkuda untuk memburu massa di pusat kota Tel Aviv, berupaya mencegah mereka memblokir jalan-jalan utama. Penangkapan pun mulai dilakukan di lokasi. Sementara itu, para demonstran anti-pemerintah juga mendapat ancaman dari kelompok bersenjata sayap kanan “Israel”.

Para demonstran yang marah terlibat baku hantam dengan polisi di tengah penolakan berlanjutnya perang (Al Jazeera)

Ancaman dari Keluarga Tawanan

Dalam perkembangan lain, sejumlah ibu dari tawanan “Israel” pada hari yang sama mengancam akan menuntut Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu secara hukum jika ia tetap melanjutkan rencana pendudukan penuh atas wilayah Gaza — sebuah langkah yang mereka khawatirkan akan mengakibatkan kematian anak-anak mereka yang ditahan di sana.

Dalam aksi protes di pusat Tel Aviv, para ibu tersebut menuntut penghentian eskalasi militer. Mereka memperingatkan bahwa tangan Netanyahu “akan berlumuran darah para tawanan dan tentara” jika ia bersikeras menjalankan operasi militer tersebut. Mereka menyerukan dilakukannya “mogok umum yang melumpuhkan ekonomi ‘Israel’” untuk menekan pemerintah agar menempuh jalur kesepakatan pertukaran tawanan, alih-alih pendudukan total atas Gaza.

Channel 12 “Israel” mengutip pernyataan ibu dari tawanan Metan Tsengaoker yang menegaskan kepada Netanyahu: “Jika Anda menduduki Gaza dan para tawanan terbunuh, kami akan menuntut Anda. Kami akan mengingatkan rakyat ‘Israel’ setiap hari bahwa Anda memilih membunuh mereka ketimbang mencapai kesepakatan pertukaran.”

Sementara itu, ibu dari tawanan Metan Angrest menyampaikan pesan langsung kepada Kepala Staf Militer “Israel” Eyal Zamir agar menolak perintah yang bisa membahayakan nyawa tawanan, menekankan bahwa ia “bertanggung jawab langsung atas keselamatan mereka”.


Tekanan Politik

Aksi-aksi keluarga tawanan ini terjadi di tengah tuduhan oposisi bahwa Netanyahu sengaja menggagalkan perundingan kesepakatan pertukaran dengan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) demi menjaga keutuhan koalisi pemerintahannya.

Protes ini juga berlangsung sehari setelah pemerintah “Israel” menyetujui rencana bertahap Netanyahu untuk menduduki seluruh Gaza. Rencana tersebut mencakup pengusiran penduduk Kota Gaza ke arah selatan, mengepung kota, lalu melakukan operasi penyusupan ke permukiman padat penduduk. Tahap berikutnya menargetkan kamp-kamp pengungsi di wilayah tengah Gaza.

(Samirmusa/arrahmah.id)