GAZA (Arrahmah.id) - Dewan Tertinggi Suku-Suku di Gaza dengan tegas menolak rencana pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara (airdrop), menyebut metode ini berbahaya, tidak efektif, dan hanya menambah kekacauan di tengah krisis.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (25/7/2025), dewan menyatakan “penyesalan dan keheranan mendalam” terhadap pihak-pihak yang mengumumkan akan menjatuhkan bantuan dari udara dengan dalih kemanusiaan.
“Kami sepenuhnya menolak metode ini,” tegas mereka. Dewan memperingatkan bahwa bantuan udara sebelumnya telah menyebabkan korban jiwa, di mana beberapa paket jatuh tepat di kepala warga, sementara lainnya mendarat di zona berbahaya.
“Cukup sudah bom yang terus-menerus menghujani kami dari langit,” lanjut pernyataan itu. “Kami tidak butuh tambahan kekacauan yang disamarkan sebagai bantuan.”
Dewan menyebut aksi-aksi semacam ini tak lebih dari “sandiwara media” yang tidak menyelesaikan kelaparan ataupun mencerminkan kebutuhan nyata rakyat Gaza di lapangan.
Pada Kamis (24/7), Haaretz mengutip sumber keamanan senior 'Israel' yang mengatakan bahwa Tel Aviv akan mengizinkan Yordania dan Uni Emirat Arab untuk melakukan airdrop ke Gaza dalam dua hari ke depan.
Namun kenyataannya, pengiriman bantuan udara selama ini seringkali justru berujung tragis. Tahun lalu, puluhan warga Gaza yang kelaparan tenggelam atau terluka ketika mencoba mengambil paket makanan yang jatuh ke laut di Gaza utara, alih-alih di daratan.
Pada Kamis (24/7), Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat kelaparan kini mencapai 122 orang, dengan setidaknya 83 di antaranya adalah anak-anak, mayoritas bayi.
Laporan-laporan juga menyebut bahwa pasukan 'Israel' menyita susu formula bayi dari para dokter internasional yang hendak membawanya masuk ke Gaza.
“Ini adalah kampanye kelaparan sistematis,” tegas kantor media. Mereka mencatat bahwa blokade telah berlangsung selama 145 hari berturut-turut, menyebabkan bencana kemanusiaan yang terus memburuk.
Kantor tersebut menyerukan tindakan segera:
-
Pembukaan semua perlintasan bantuan,
-
Pengiriman darurat susu formula bayi,
-
Minimal 500 truk bantuan dan 50 truk bahan bakar per hari.
“Mungkin masih bisa kita selamatkan yang tersisa,” bunyi akhir pernyataan itu, “dari bencana kemanusiaan yang sedang ditayangkan secara langsung di hadapan dunia.” (zarahamala/arrahmah.id)
