BANDUNG (Arrahmah.id) – Ribuan kaum Muslimin memadati Lapangan Tritan Point, Bandung, Sabtu (12/7), dalam acara safari dakwah internasional yang menghadirkan dua tokoh ternama dunia: Dr. Zakir Naik dan putranya, Syekh Fariq Naik. Keduanya tampil membawakan pesan-pesan kuat seputar jihad, identitas Muslim, dan perjuangan rakyat Palestina yang menggugah nurani umat.
Seruan Menjaga Identitas Muslim
Syekh Fariq Naik membuka ceramahnya dengan menegaskan pentingnya menjaga identitas keislaman di tengah masyarakat global saat ini. Ia menyebutkan bahwa janggut, tutup kepala, dan celana di atas mata kaki adalah bagian dari identitas sunnah yang membedakan Muslim dan menjadi syiar Islam.
"Jika label itu menunjukkan jati diri Anda, maka kenakanlah!" tegasnya. Ia menambahkan bahwa mengenakan simbol-simbol keislaman bukan sekadar budaya, tapi bentuk ketaatan pada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ia juga mengkritik umat Islam yang malu menampakkan identitasnya di hadapan publik karena tekanan sosial atau opini negatif media.
Salam Islam dan Jati Diri
Fariq menekankan bahwa salam Islam "Assalamu 'alaykum" adalah ucapan yang sarat makna doa dan ukhuwah, bukan sekadar formalitas sosial. Ia menyinggung bahwa ucapan “hello” atau “good morning” tidak relevan dalam Islam, karena salam Islam tetap bermakna dan penuh kebaikan di segala keadaan, bahkan saat pagi yang buruk sekalipun.
"Jika non-Muslim bangga dengan identitas mereka, kenapa kita sebagai Muslim justru malu?" ujarnya.
Dr. Zakir Naik: Jihad Adalah Perjuangan Ilmiah dan Pembelaan Diri, Bukan Teror
Dalam ceramah utamanya, Dr. Zakir Naik menegaskan bahwa istilah “jihad” selama ini telah disalahpahami oleh media Barat dan bahkan sebagian umat Islam sendiri. Ia menjelaskan bahwa jihad berasal dari kata Arab jahada yang berarti “berjuang” atau “bersungguh-sungguh”, dan maknanya luas, mulai dari melawan hawa nafsu, berdakwah, menuntut ilmu, memperbaiki masyarakat, hingga membela diri dari agresi.
"Jihad bukan berarti perang semata. Jihad adalah berjuang menahan nafsu, memperjuangkan keadilan, dan melawan penindasan," tegasnya. Ia menambahkan bahwa jihad dalam bentuk perang (qital) hanya dilakukan dalam konteks membela diri, dan Islam memiliki aturan ketat dalam peperangan: tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, orang tua, bahkan tidak boleh merusak pohon atau membunuh hewan secara sembarangan.
“Holy War” Adalah Propaganda Barat
Dr. Zakir mengkritik istilah “holy war” (perang suci) yang sering dikaitkan dengan Islam. Ia menyebut bahwa istilah tersebut berasal dari sejarah Perang Salib Kristen yang memaksakan agama dengan kekerasan.
"Istilah 'holy war' tidak ada dalam Al-Qur’an maupun hadits. Itu propaganda yang salah arah. Islam tidak menyebarkan agama dengan pedang, tapi dengan ilmu dan akhlak," ujarnya.
Solidaritas untuk Palestina dan Kebangkitan Muslim
Dalam bagian awal ceramahnya, Dr. Zakir juga menyoroti penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan “Israel”. Ia menyebut bahwa kesabaran dan keteguhan rakyat Palestina dalam menghadapi genosida telah menjadi cermin kekuatan iman dan justru menarik banyak orang non-Muslim untuk masuk Islam.
"Ibu-ibu Palestina ketika anak-anak mereka dibunuh, mereka berkata: Alhamdulillah. Mereka berdoa agar dikaruniai anak-anak lagi untuk dikorbankan di jalan Allah. Keteguhan inilah yang membuat ribuan non-Muslim masuk Islam," serunya.
Dr. Zakir mengajak umat Islam untuk bangkit membela saudara mereka di Palestina dengan dukungan moral, doa, dan meningkatkan kesadaran umat tentang isu ini. Ia menambahkan bahwa saat ini gelombang simpati internasional terhadap Palestina meningkat, bahkan dari kalangan non-Muslim di Barat.
Muslim Harus Jadi Duta Islam
Sebagai penutup, Dr. Zakir menyerukan kepada umat Islam untuk menjadi duta kebaikan Islam melalui akhlak, kejujuran, kesantunan, dan kontribusi positif di masyarakat.
"Jika Anda berpenampilan Muslim namun tetap jujur, santun, dan cerdas, itu akan mengubah citra Islam di mata dunia. Ubah persepsi dunia, satu per satu, mulai dari diri kita sendiri!" tegasnya.
Ia juga membacakan ayat Al-Qur’an, "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik..." (QS. An-Nahl: 125).
(Samirmusa/arrahmah.id)
