Memuat...

Dua Tahun Genosida Gaza: Bagaimana 'Israel' Merusak Setiap Upaya Gencatan Senjata

Zarah Amala
Rabu, 8 Oktober 2025 / 17 Rabiulakhir 1447 10:45
Dua Tahun Genosida Gaza: Bagaimana 'Israel' Merusak Setiap Upaya Gencatan Senjata
Dua Tahun Genosida Gaza: Bagaimana 'Israel' Merusak Setiap Upaya Gencatan Senjata

GAZA (Arrahmah.id) - Selama dua tahun terakhir, genosida 'Israel' di Gaza terus berlangsung tanpa jeda. Setiap upaya mediasi gagal menghentikan serangan udara 'Israel'atau mengurangi penderitaan lebih dari dua juta warga Palestina yang terperangkap di bawah blokade.

Meski berbagai perundingan telah digelar dan peta politik berubah, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu tetap menolak gencatan senjata permanen. Pemerintahnya bersikeras mencari kemenangan militer, bukan solusi diplomatik.

Berikut adalah garis waktu sejumlah upaya gencatan senjata dan inisiatif perdamaian yang membentuk dua tahun kehancuran di Gaza.

November 2023: Gencatan Senjata Pertama

Melalui mediasi Qatar dan Mesir, tercapai gencatan senjata pertama antara 'Israel' dan kelompok perlawanan Palestina. Kesepakatan itu hanya bertahan tujuh hari. Sebanyak 109 tawanan tentara 'Israel' dibebaskan, ditukar dengan 240 warga Palestina yang diculik. Namun 'Israel' melanggar kesepakatan dan melanjutkan serangan udara serta operasi darat besar-besaran.

Desember 2023: Khan Yunis Dikepung

Awal Desember, pasukan 'Israel' memperluas invasi darat ke Khan Yunis di Gaza selatan.
Ribuan warga tewas dan seluruh kawasan permukiman hancur. Fase baru genosida dimulai dengan tingkat kehancuran dan pengungsian yang semakin besar.

Mei 2024: Usulan Tiga Tahap

Sebuah rencana baru diajukan, berisi gencatan senjata dalam tiga tahap, masing-masing berlangsung sekitar 40 hari. Tujuannya menghentikan genosida dan memungkinkan keluarga pengungsi kembali ke rumah. Netanyahu menolaknya dan justru memerintahkan serangan baru ke Rafah, tempat perlindungan terakhir bagi warga sipil Gaza.

31 Mei 2024: Peta Jalan Biden

Presiden AS Joe Biden mengumumkan peta jalan berdasarkan rencana tiga tahap versi 'Israel'. Hamas menerimanya secara prinsip. Namun Netanyahu kembali menolak, dengan alasan 'Israel' belum mencapai “tujuan keamanannya.”

10 Juni 2024: Resolusi PBB 2735

Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 2735 yang mendukung rencana Biden dan menyerukan gencatan senjata penuh. 'Israel' mengabaikannya. Genosida berlanjut, dan krisis kemanusiaan kian memburuk.

Desember 2024: Trump Turun Tangan

Menjelang pelantikannya, Presiden terpilih Donald Trump memperingatkan akan terjadi “neraka di Timur Tengah” jika para tawanan tentara 'Israel' di Gaza tidak dibebaskan sebelum ia menjabat. Pernyataannya memicu kembali upaya diplomatik, namun tidak menghentikan genosida 'Israel'.

Januari 2025: Gencatan Senjata Kedua

Pertengahan Januari, diumumkan gencatan senjata baru yang dimulai 19 Januari dan bertahan selama 42 hari.
Kesepakatan itu mencakup pembebasan 33 tawanan tentara 'Israel' sebagai imbalan atas ratusan warga Palestina yang ditahan.

Maret 2025: 'Israel' Kembali Menyerang

Awal Maret, 'Israel' kembali melancarkan ofensif sepihak dan memberlakukan blokade total terhadap Gaza.
Pasokan makanan, obat, dan bahan bakar dihentikan. Kehancuran dan kelaparan meluas, sementara para pemimpin 'Israel' membahas rencana mengusir warga Gaza dan mengubah wilayah itu menjadi proyek investasi.

Oktober 2025: Rencana Trump

Memasuki tahun ketiga genosida, Presiden AS Donald Trump meluncurkan rencana perdamaian 20 poin yang didukung Netanyahu. Isi utamanya mencakup: gencatan senjata segera dan pembebasan semua tawanan tentara 'Israel' dalam 72 jam, pelucutan senjata Hamas, penarikan bertahap pasukan 'Israel' dari Gaza, pembentukan otoritas transisi di bawah pengawasan Trump, melibatkan mantan PM Inggris Tony Blair.

Hamas menyambut positif rencana tersebut. Gerakan itu setuju membebaskan seluruh tawanan tentara 'Israel' baik yang masih hidup maupun yang gugur, dengan imbalan gencatan senjata total dan penarikan penuh pasukan 'Israel'. Hamas juga menerima gagasan pembentukan otoritas Palestina independen untuk mengelola Gaza dan ikut serta dalam pembicaraan lanjutan di Sharm el-Sheikh guna membahas implementasinya. (zarahamala/arrahmah.id)