Memuat...

Eropa Tolak Ajakan Trump Gempur Iran, "Bukan Perang Kami"

Zarah Amala
Kamis, 19 Maret 2026 / 30 Ramadan 1447 11:03
Eropa Tolak Ajakan Trump Gempur Iran, "Bukan Perang Kami"
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa Washington tidak berkonsultasi dengan sekutu-sekutu Eropanya mengenai perang melawan Iran (Reuters)

BERLIN (Arrahmah.id) - Aliansi Trans-Atlantik berada di titik nadir setelah negara-negara utama Eropa secara terbuka menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk bergabung dalam operasi militer di Iran. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dalam pidato di depan parlemen menyatakan keraguan besar atas pembenaran perang tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Washington tidak berkonsultasi dengan sekutu Eropa dan tidak memiliki rencana operasi yang meyakinkan.

Sikap Jerman ini diikuti oleh Prancis dan Spanyol. Presiden Emmanuel Macron menegaskan Prancis bukan pihak dalam konflik ini, sementara Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut serangan terhadap Iran sebagai tindakan sembrono dan ilegal, meskipun Trump mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol.

Jerman memastikan tidak akan mengirim kekuatan militer ke Selat Hormuz selama perang berlanjut. Prancis justru mencoba membentuk aliansi alternatif untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut tanpa melibatkan Amerika Serikat. Mayoritas warga Eropa menentang perang ini. Survei menunjukkan 68% warga Spanyol, 58% warga Jerman, dan 49% warga Inggris menolak keterlibatan militer dalam konflik Iran.

Trump melontarkan kritik pedas kepada PM Inggris Keir Starmer dengan menyebutnya bukan Winston Churchill karena enggan bergabung. Hal ini memicu kemarahan lintas partai di Inggris yang menganggap komentar Trump kekanak-kanakan.

Para pemimpin Eropa khawatir jika mereka menolak Trump, AS akan menghentikan dukungan untuk Ukraina atau memaksa Kyiv menerima kesepakatan yang hanya menguntungkan Moskow. Eropa mengkritik langkah Trump yang melonggarkan sanksi minyak Rusia demi menekan harga energi global yang melonjak akibat perang, sebuah langkah yang dinilai mengkhianati komitmen sanksi sebelumnya.

Alih-alih mengikuti komando Washington, Inggris dan Prancis mulai merancang rencana mandiri untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz. Prancis bahkan telah memulai konsultasi dengan India dan negara-negara Teluk untuk membentuk pengamanan maritim yang melibatkan dialog politik guna meredam ketegangan dengan Teheran, sebuah pendekatan yang sangat kontras dengan strategi "bom habis-habisan" milik administrasi Trump. (zarahamala/arrahmah.id)