Memuat...

Gaza Terhimpit Krisis Pangan dan Harga Selangit di Tengah Perang Iran

Zarah Amala
Rabu, 25 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 10:45
Gaza Terhimpit Krisis Pangan dan Harga Selangit di Tengah Perang Iran
Jenazah para martir Palestina di Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, yang tewas dalam serangan 'Israel' pekan lalu (Reuters)

GAZA (Arrahmah.id) - Pecahnya perang baru antara AS-'Israel' melawan Iran memicu gelombang kepanikan di Jalur Gaza. Warga yang masih trauma kini harus menghadapi kenyataan pahit: perhatian dunia beralih ke Teluk, sementara pasokan kebutuhan pokok mereka semakin terancam akibat penutupan kembali pintu-pintu perlintasan secara sepihak oleh militer 'Israel'.

Kondisi ini memicu lonjakan harga barang kebutuhan dasar. Beberapa oknum pedagang dilaporkan memanfaatkan situasi dengan menimbun stok, memperparah penderitaan warga yang sudah kesulitan ekonomi.

Warga Gaza merasa mata dunia hanya tertuju pada Iran dan Selat Hormuz. "Gaza telah dilupakan," ujar Fuad Shahin, pemilik kafe di Deir al-Balah. Perasaan menjadi pihak yang kalah dalam percaturan politik besar sangat terasa di sana.

Meskipun secara resmi ada gencatan senjata sejak 5 bulan lalu, realitanya lebih dari 670 orang telah gugur akibat serangan udara 'Israel' yang hampir terjadi setiap hari. Hal ini membuktikan betapa ringkihnya jaminan keamanan bagi warga sipil.

Penutupan penyeberangan tidak hanya menghentikan barang, tetapi juga menghalangi pasien dengan kondisi kritis untuk mencari pengobatan di luar Jalur Gaza. Banyak keluarga kini hanya bergantung pada bantuan sosial atau sedekah untuk sekadar menyambung hidup. Harapan untuk rekonstruksi (pembangunan kembali) bangunan yang hancur masih tertahan oleh syarat-syarat politik yang rumit, termasuk masalah pelucutan senjata Hamas.

Para ahli dari PBB terus mendesak agar lebih banyak pintu perlintasan dibuka demi menyalurkan bantuan kemanusiaan darurat berupa makanan dan bahan bakar. Namun, bagi warga Gaza, ketakutan akan serangan bom yang sewaktu-waktu bisa membesar kembali membuat hidup mereka menjadi perjuangan harian untuk sekadar bertahan hidup di tengah krisis yang bertumpuk. (zarahamala/arrahmah.id)