Memuat...

Gideon Levy: Gambar Kelaparan di Gaza Ingatkan pada Holocaust dan Kamp Konsentrasi

Samir Musa
Jumat, 25 Juli 2025 / 1 Safar 1447 15:31
Gideon Levy: Gambar Kelaparan di Gaza Ingatkan pada Holocaust dan Kamp Konsentrasi
Levy mengatakan bahwa menjadikan kelaparan sebagai senjata yang sah adalah fase paling jahat dalam perang ini (Reuters).

GAZA (Arrahmah.id) – Penulis dan jurnalis senior “Israel”, Gideon Levy, menyatakan bahwa gambar-gambar kelaparan dari Gaza yang disembunyikan oleh media lokal “Israel” mengingatkannya pada para penyintas kamp konsentrasi dan tragedi Holocaust. Ia menegaskan bahwa menjadikan kelaparan sebagai senjata yang sah adalah fase paling jahat dalam perang ini.

Dalam artikelnya di surat kabar Haaretz, Levy menggambarkan gambar-gambar dan video dari Gaza yang memperlihatkan kerangka bayi—baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal—dengan tulang-tulang menonjol dari balik kulit mereka, serta mata dan mulut terbuka lebar. Ada juga bayi-bayi yang tergeletak di lantai rumah sakit tanpa alas, atau dipindahkan menggunakan gerobak yang ditarik keledai.

Menurutnya, “Ini adalah gambar-gambar dari neraka.” Ia menyesalkan bahwa banyak orang di dalam “Israel” yang menyangkal atau meragukan kebenaran gambar-gambar ini. Bahkan, “sebagian dari mereka menunjukkan kegembiraan dan kebanggaan saat melihat anak-anak yang sekarat karena kelaparan.”

Penulis “Israel” Gideon Levy (Anadolu)

Fase Paling Jahat

Levy menegaskan bahwa menjadikan kelaparan sebagai senjata yang diterima dan dilegalkan oleh publik “Israel”—baik melalui dukungan terbuka maupun sikap apatis yang dingin—adalah “fase paling jahat” dalam perang terhadap Gaza.

Ia menambahkan bahwa bagi sebagian orang, senjata kelaparan telah dianggap sah karena digunakan untuk mencapai tujuan pembersihan etnis. Rezim penjajah menggunakan kelaparan untuk membuat Gaza menjadi wilayah yang tidak layak huni, sehingga warganya akan terpaksa meninggalkannya menuju tempat yang hanya diketahui oleh Allah.

Levy menyebut bahwa kelaparan yang disengaja ini menjadikan perang saat ini sebagai perang paling keji dan paling kriminal yang pernah dilakukan oleh “Israel”. Tak pernah sebelumnya ada dua juta manusia yang dibiarkan kelaparan seperti ini.

Menurutnya, proyek pembersihan etnis di Jalur Gaza terus berlanjut, dan kelaparan menjadi bagian penting dari strategi tersebut—selain pengeboman yang tiada henti.

Jumlah Korban Terus Bertambah

Hari ini (Kamis), Rumah Sakit Asy-Syifa mengumumkan bahwa dua warga Palestina meninggal dunia akibat kelaparan, salah satunya adalah penderita diabetes. Dengan demikian, jumlah korban jiwa akibat kelaparan naik menjadi 115 orang, sebagaimana didokumentasikan oleh Kantor Media Pemerintah di Jalur Gaza.

Sementara itu, Komisaris Jenderal UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) mengungkapkan bahwa satu dari lima anak di Kota Gaza mengalami malnutrisi parah, dan jumlah kasusnya terus bertambah setiap hari.

Juru bicara UNICEF di Palestina mengatakan kepada Aljazeera bahwa “kematian kini lebih dekat kepada anak-anak Gaza dibanding bantuan kemanusiaan.” Ia menggambarkan situasi di Gaza sebagai sangat menyedihkan dan belum pernah terjadi sebelumnya.

(Samirmusa/arrahmah.id)