BRAGUE (Arrahmah.id) — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyebut situasi di Gaza sebagai "krisis moral yang menantang hati nurani dunia", bukan sekadar krisis kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa "kata-kata tidak bisa memberi makan anak-anak yang kelaparan."
Dalam pidato video kepada sidang umum Amnesty International yang digelar di Praha, Republik Ceko, pada Jumat (25/7), Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam atas "ledakan kematian dan kehancuran" yang terjadi di Gaza sejak serangan yang dilancarkan oleh Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia kembali mengecam serangan tersebut, namun menekankan bahwa tidak ada yang bisa membenarkan skala kehancuran yang kini berlangsung, dilansir dari Aljazeera.
"Besar dan luasnya peristiwa ini melampaui apa pun yang kita saksikan dalam waktu dekat," ujarnya. Ia mengaku tidak mampu memahami tingkat ketidakpedulian, kelambanan, dan kurangnya belas kasih yang ditunjukkan oleh banyak pihak di masyarakat internasional. "Kita menyaksikan absennya kebenaran dan kemanusiaan," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa para staf PBB di Gaza kini "kelaparan di depan mata kita sendiri", dan sebagian besar dari mereka mengaku hidup dalam kondisi yang tak terbayangkan—hingga merasa "mati rasa dan kelelahan secara emosional," bahkan tak mampu lagi membedakan antara hidup dan mati.
“Anak-anak Ingin ke Surga”
Guterres juga menyampaikan kesaksian memilukan tentang anak-anak Gaza. "Mereka berbicara tentang keinginan untuk pergi ke surga," ujarnya, "karena menurut mereka di sana setidaknya ada makanan."
Ia menegaskan bahwa "PBB akan terus bersuara kapan pun ada kesempatan," namun kembali menyatakan bahwa "kata-kata saja tidak dapat memberi makan anak-anak yang kelaparan."
Sejak 27 Mei lalu, menurut catatan PBB, lebih dari seribu warga Palestina terbunuh saat mencoba mendapatkan makanan. "Mereka bukan tewas dalam pertempuran," katanya, "melainkan mati dalam keputusasaan saat seluruh populasi dilanda kelaparan."
Guterres kembali menyerukan gencatan senjata segera dan permanen, serta pembebasan seluruh tawanan tanpa syarat. Ia juga menuntut akses kemanusiaan penuh tanpa hambatan dan langkah-langkah konkret serta tidak dapat dibatalkan menuju solusi dua negara.
Ia menambahkan bahwa PBB siap sepenuhnya memanfaatkan setiap peluang gencatan senjata untuk memperluas operasi kemanusiaan di seluruh wilayah Gaza, sebagaimana telah dilakukan selama jeda kemanusiaan sebelumnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
