GAZA (Arrahmah.id) - Hamas menawarkan amnesti kepada kelompok-kelompok bersenjata di Jalur Gaza dalam upaya memulihkan ketertiban setelah bentrokan sengit dengan milisi yang menewaskan puluhan orang.
Bentrok berdarah antara pasukan keamanan Hamas dan militan yang terkait dengan keluarga berpengaruh Doghmush pecah setelah pasukan 'Israel' menarik diri dari Kota Gaza akhir pekan lalu.
Sedikitnya delapan pejuang Hamas dan 19 anggota klan Doghmush dilaporkan tewas dalam pertempuran yang terjadi di dekat Rumah Sakit Yordania, kawasan Sabra, Gaza. Media lokal juga melaporkan bahwa Hamas telah menangkap puluhan anggota keluarga Doghmush.
Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri Gaza memberi waktu kepada anggota “geng kriminal” dan kelompok bersenjata hingga 19 Oktober untuk menyerahkan diri.
Otoritas memperingatkan bahwa mereka akan mengambil “langkah tegas” terhadap siapa pun yang tidak mematuhi, dan menyebut pengumuman itu sebagai “peringatan terakhir.”
Hamas bertekad menindak kelompok-kelompok milisi yang dituduh bekerja sama dengan militer 'Israel', termasuk Popular Forces, sebuah kelompok yang disebut-sebut mendapat dukungan 'Israel' dan dipimpin oleh mantan penyelundup narkoba Yasser Abu Shabab.
Dalam pernyataannya pada Senin (13/10/2025), keluarga Doghmush mengecam kekerasan tersebut dan membantah bekerja sama dengan 'Israel'.
“Keluarga tidak bertanggung jawab atas insiden-insiden ini dalam bentuk apa pun. Ini adalah tindakan individu yang tidak ada hubungannya dengan keluarga dan hanya melayani kepentingan pendudukan,” tulis mereka di media sosial.
Mereka juga menambahkan bahwa lebih dari 600 anggota keluarga Doghmush telah tewas dan ratusan lainnya terluka selama dua tahun serangan 'Israel' di Gaza.
Di antara korban tewas dalam bentrokan di Sabra adalah Saleh al-Jafawari, jurnalis dan influencer media sosial Palestina, serta Mohammed Imad Aql, putra dari seorang komandan senior Hamas.
Sejak penarikan pasukan 'Israel' pekan lalu setelah kesepakatan gencatan senjata, Hamas berusaha mengembalikan kendali atas Gaza. Pasukan keamanan dilaporkan telah dikerahkan di wilayah yang tidak lagi diduduki 'Israel', dan video yang beredar menunjukkan polisi bersenjata berpatroli di jalanan dan pasar Kota Gaza.
Sebagai bagian dari apa yang disebut “rencana perdamaian” Presiden AS Donald Trump, Hamas telah menyatakan ke
sediaannya untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan independen, namun tetap menolak menyerahkan senjatanya sebelum proses transisi kekuasaan disepakati secara resmi. (zarahamala/arrahmah.id)
