TEHERAN (Arrahmah.id) -- Iran mengembangkan doktrin pertahanan militer yang dikenal sebagai “Mosaic Defense”, sebuah sistem strategi perang berlapis dan terdesentralisasi yang dirancang untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat (AS) dan 'Israel'. Doktrin ini memungkinkan unit-unit militer Iran tetap bertempur secara mandiri meskipun struktur komando pusat lumpuh akibat serangan musuh.
Konsep mosaic defense pertama kali dirancang pada pertengahan 2000-an oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) setelah Amerika Serikat menginvasi Afghanistan dan Irak. Iran kemudian merombak struktur militernya menjadi jaringan komando regional yang tersebar di seluruh provinsi sehingga setiap unit dapat beroperasi secara independen jika komunikasi dengan pusat komando terputus.
Strategi ini pada dasarnya mengandalkan perang asimetris, yakni menghadapi kekuatan militer yang lebih kuat dengan taktik gerilya, mobilisasi milisi, serta serangan terhadap titik lemah lawan. Sistem tersebut juga melibatkan pasukan paramiliter Basij, jaringan milisi yang dapat dimobilisasi secara luas untuk mempertahankan wilayah Iran jika terjadi invasi.
Selain struktur komando yang terdesentralisasi, Iran juga membangun berbagai sistem pertahanan udara dan rudal sebagai bagian dari strategi ini. Salah satunya adalah sistem rudal pertahanan udara jarak jauh Bavar-373, yang diklaim mampu menyaingi sistem Rusia S-300, serta sistem Khordad-15 yang dirancang untuk mendeteksi dan menembak jatuh pesawat tempur, drone, maupun rudal jelajah.
Dalam praktiknya, doktrin mosaic defense membagi Iran ke dalam puluhan sektor pertahanan regional dengan pusat komando masing-masing. Setiap sektor memiliki unit rudal, jaringan komando bawah tanah, serta pasukan mobile yang dapat meluncurkan serangan balasan atau melakukan perang gerilya jika terjadi invasi.
Sejumlah analis militer menilai, seperti dilansir The Wall Street Journal (7/3/2026),sistem tersebut dirancang untuk memastikan kelangsungan rezim Iran bahkan jika kepemimpinan nasional atau infrastruktur militer utama diserang. Dengan model pertahanan terfragmentasi ini, musuh akan kesulitan melumpuhkan seluruh kemampuan militer Iran secara cepat.
Dalam perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah, strategi mosaic defense kembali menjadi sorotan setelah Iran meningkatkan kesiapsiagaan militernya menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan 'Israel'. Sejumlah laporan menyebutkan doktrin ini memungkinkan Iran tetap melancarkan operasi militer meskipun sebagian fasilitas militernya terkena serangan udara.
Para pengamat menilai pendekatan ini mencerminkan strategi pertahanan jangka panjang Iran: bukan memenangkan perang secara cepat, melainkan membuat konflik menjadi mahal dan berkepanjangan bagi lawannya. (hanoum/arrahmah.id)
