KABUL (Arrahmah.id) - Wakil juru bicara Imarah Islam Afghanistan, Hamdullah Fitrat, mengatakan bahwa setelah pemboman oleh rezim militer Pakistan tadi malam terhadap pusat rehabilitasi narkoba di Kabul, jumlah korban tewas sejauh ini telah meningkat menjadi 400, sementara jumlah korban luka mencapai 250.
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia untuk Afghanistan, Richard Bennett, telah menyatakan keprihatinan atas korban sipil dalam serangan terhadap pusat perawatan narkoba tersebut.
Bennett menyampaikan simpati kepada keluarga para korban dan mendesak Kabul dan Islamabad untuk mengurangi ketegangan dan menghormati hukum internasional, termasuk melindungi warga sipil dan tempat umum seperti rumah sakit, lansir Tolo News (17/3/2026).
Yayasan Hak Asasi Manusia Internasional juga mengutuk serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa tempat umum seperti rumah sakit tidak boleh dijadikan sasaran.
Organisasi tersebut menyatakan bahwa komunitas internasional harus melakukan penyelidikan independen terhadap serangan tersebut dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.
Yayasan Hak Asasi Manusia Internasional juga mengatakan bahwa serangan terhadap rumah sakit dan tempat umum serupa merupakan pelanggaran hukum internasional yang jelas dan bahwa komunitas internasional tidak boleh tinggal diam.
Ini bukan kali pertama militer Pakistan menargetkan warga sipil di Afghanistan. Sebelumnya, mereka juga menargetkan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, di berbagai provinsi di negara tersebut.
Juru bicara Imarah Islam Afghanistan, Zabihullah Mujahid, juga memperingatkan dalam sebuah wawancara dengan Tolo News bahwa waktu untuk diplomasi dengan Pakistan telah berakhir dan serangan itu harus dibalas. (haninmazaya/arrahmah.id)
