GAZA (Arrahmah.id) – Investigasi terbaru dari kantor berita Associated Press (AP) mengungkap bahwa kontraktor keamanan asal Amerika Serikat yang bertugas menjaga lokasi distribusi bantuan di Jalur Gaza menggunakan peluru tajam dan granat kejut saat warga Palestina kelaparan berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan. Temuan ini diperoleh dari kesaksian langsung serta rekaman video yang diperoleh AP.
Dua kontraktor AS, yang identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan, mengaku telah mengajukan keluhan karena merasa terganggu dengan praktik yang mereka sebut sebagai “berbahaya dan tidak bertanggung jawab.” Menurut mereka, banyak petugas keamanan yang direkrut justru tidak memiliki kualifikasi memadai, tetapi dipersenjatai berat.
Tembakan dan Gas Merica di Tengah Kelaparan
Kedua sumber menyebut bahwa para penjaga tampaknya diberi “izin terbuka” untuk bertindak sesuka hati. Mereka rutin melempar granat kejut dan menyemprotkan gas merica ke arah kerumunan warga yang tengah mengantre bantuan. Salah satu kontraktor bahkan menyebut bahwa “tembakan diarahkan ke segala arah, termasuk kadang ke arah warga yang sedang menunggu bantuan.”
Lebih jauh, mereka menuturkan bahwa distribusi bantuan berlangsung kacau dan tidak terkoordinasi. “Beberapa penjaga bahkan baru direkrut lewat email hanya beberapa hari sebelumnya, dan sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengalaman tempur sama sekali,” ujar mereka.
AP juga melaporkan bahwa para penjaga yang baru tiba di Gaza tidak mendapatkan pelatihan memadai untuk menggunakan senjata berat. Perusahaan keamanan yang dikontrak oleh lembaga Gaza Humanitarian Foundation disebut baru memberikan aturan keterlibatan (rules of engagement) tiga hari setelah mereka mulai bekerja.
Bahaya Nyata, Kepentingan Tersembunyi
Kedua kontraktor memperingatkan bahwa jika lembaga Gaza Humanitarian Foundation terus beroperasi dengan cara seperti ini, maka nyawa warga sipil akan terus berada dalam bahaya. Mereka juga menyebut adanya dugaan bahwa militer 'Israel' memanfaatkan sistem distribusi bantuan untuk mengumpulkan informasi intelijen.
Sementara itu, seorang pejabat keamanan 'Israel' mengatakan kepada AP bahwa tidak ada sistem pemeriksaan keamanan yang dijalankan oleh militer 'Israel' di lokasi-lokasi distribusi bantuan, mengesampingkan keterlibatan resmi.
Perusahaan keamanan Safe Reach Solutions, yang bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan tersebut, mengakui bahwa 31% operasi distribusi dalam dua pekan terakhir Juni mengakibatkan insiden kekerasan, meski mengklaim tidak ada korban luka serius yang tercatat di titik-titik distribusi mereka. Perusahaan tersebut juga mengakui adanya insiden tembakan, namun berdalih bahwa tembakan diarahkan jauh dari warga sipil.
Menanggapi laporan ini, Gaza Humanitarian Foundation menyebut bahwa tuduhan tersebut berasal dari “orang-orang yang berkepentingan pribadi dan ingin menggagalkan upaya kemanusiaan kami.” Mereka mengeklaim bahwa tim mereka terdiri dari para ahli kemanusiaan, logistik, dan keamanan dengan pengalaman luas di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
