TEHERAN (Arrahmah.id) -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi menyatakan keraguannya bahwa 'Israel' akan mematuhi ketentuan gencatan senjata Gaza. Ia menuding pemerintah 'Israel' sering melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya, termasuk di Lebanon dengan milisi Syiah Hizbullah.
“Kami memperingatkan tentang tipu daya dan pengkhianatan rezim Zionis terkait perjanjian-perjanjian sebelumnya. Rezim Zionis sama sekali tidak dapat dipercaya,” kata Araghchi dalam wawancara di radio nasional Iran, dikutip dari The National (12/10/2025).
Menurut Araghchi, pelanggaran berulang 'Israel' terhadap perjanjian di Lebanon menjadi bukti kuat bahwa negara itu tidak akan sungguh-sungguh menghormati rencana perdamaian Gaza.
Meski menaruh keraguan terhadap 'Israel', Araghchi menegaskan, Iran mendukung setiap upaya untuk menghentikan perang dan mengembalikan stabilitas di Gaza.
“Setiap rencana yang bertujuan menghentikan kejahatan ini selalu mendapat dukungan kami,” ujarnya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan dukungan Teheran terhadap segala inisiatif yang mencakup penghentian perang genosida, penarikan pasukan pendudukan, pembebasan tahanan Palestina, serta pemenuhan hak-hak dasar rakyat Palestina.
Menlu Iran itu juga meragukan komitmen Amerika Serikat terhadap pelaksanaan gencatan senjata setelah fase pertama rencana perdamaian yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump dijalankan.
“Saat itulah kita akan melihat sejauh mana para pejabat Amerika dan pihak-pihak lain akan tetap berkomitmen pada klaim dan janji yang telah mereka buat,” tutur Araghchi.
Ketegangan antara Iran dan 'Israel' meningkat setelah kedua negara terlibat perang selama 12 hari pada Juni 2025 lalu yang dipicu oleh serangan 'Israel' terhadap situs nuklir dan militer Iran.
Araghchi juga mengungkap bahwa Teheran telah menerima pesan dari Rusia mengenai posisi terbaru 'Israel'.
“Rupanya 3 atau 4 hari yang lalu ada panggilan telepon antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Netanyahu menekankan, ia tidak berniat memulai kembali perang dengan Iran,” ungkapnya.
Menurut Araghchi, pesan tersebut telah disampaikan kepada Duta Besar Iran di Moskow, tetapi Teheran tetap menyiagakan angkatan bersenjata untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
“Angkatan bersenjata kami selalu siaga dan terus meningkatkan kemampuan setiap hari,” pungkas Araghchi. (hanoum/arrahmah.id)
