GAZA (Arrahmah.id) - 'Israel' telah menolak masuknya sedikitnya empat tenaga kesehatan asal Amerika Serikat serta puluhan tenaga medis asing lainnya yang hendak menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, meskipun telah berlaku gencatan senjata sejak Oktober, menurut laporan Washington Post pada Senin (8/12/2025).
Salah satu yang ditolak adalah Feroze Sidhwa, ahli bedah trauma asal California yang telah dua kali masuk ke Gaza untuk menangani korban agresi militer 'Israel' dan memberikan pelatihan medis lanjutan bagi para dokter Palestina.
Sidhwa, yang bersaksi di depan Dewan Keamanan PBB pada Mei lalu mengenai apa yang ia saksikan di Gaza, mengatakan bahwa hanya beberapa jam sebelum berangkat dari Yordania bulan lalu, dirinya diberitahu bahwa namanya tidak masuk dalam daftar orang asing yang diizinkan 'Israel' untuk masuk.
Ia mengaku tidak mengetahui apakah kesaksiannya yang mengkritik serangan militer 'Israel' menjadi alasan penolakan tersebut, sebab 'Israel' tidak memberikan penjelasan apa pun. Washington Post menyatakan bahwa para pejabat 'Israel' juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Menurut WHO, lebih dari 3,5 juta konsultasi medis dan lebih dari 50.000 operasi darurat telah dilakukan oleh relawan medis internasional dalam dua tahun terakhir melalui misi-misi jangka pendek di Gaza.
Sidhwa seharusnya melakukan operasi kompleks bagi warga Palestina yang terluka serta melatih para dokter lokal untuk menjalankan prosedur tersebut secara mandiri. Ia mempertimbangkan membawa kasusnya ke Mahkamah Agung Israel tahun depan.
Seorang pejabat PBB yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan bahwa sebelum gencatan senjata berlaku, 'Israel' menolak masuknya lebih dari sepertiga tenaga medis asing yang telah melewati proses pra-persetujuan. Kini angka penolakan turun, namun tetap 20 persen dari para pemohon masih ditolak pada menit-menit terakhir.
Selain Sidhwa, 'Israel' juga menolak sejumlah tenaga medis lain, diantaranya: John Kahler, dokter anak dan pendiri MedGlobal, dua kali dalam sepekan terakhir. Ia berencana menilai kebutuhan ribuan anak amputee dan membangun proyek rehabilitasi baru. Victoria Rose, ahli bedah plastik asal Inggris, yang telah tiga kali masuk Gaza selama dua tahun perang namun ditolak untuk ketiga kalinya pekan lalu. Ia sebelumnya menangani para korban penembakan massal saat berebut bantuan yang terkait dengan yayasan GHF, lembaga kontroversial yang didukung AS-'Israel' dan kini dibubarkan. Nor Rizek, perawat asal Arizona, yang menyatakan tidak pernah aktif melakukan advokasi publik. Ia mengatakan, “Tidak ada alasan atau pola. Mereka hanya menolak begitu saja.”
Mohammed Subeh, seorang dokter ruang gawat darurat asal AS, juga ditolak saat hendak membantu rumah sakit lapangan di Gaza City yang menangani ratusan pasien setiap hari.
CENTCOM menolak memberikan komentar terkait penolakan 'Israel' ini. WHO menyebut hanya 14 dari 36 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian. Lebih dari 16.500 warga Gaza membutuhkan perawatan medis yang tidak tersedia di wilayah tersebut.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan, 'Israel' telah menewaskan 376 warga Palestina dan melukai 981 lainnya. Total korban sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 70.365 syahid dan 171.058 luka-luka. (zarahamala/arrahmah.id)
