Memuat...

Jurnalis Al Jazeera Terus Jadi Sasaran di Gaza, Kamera Tetap Menyala di Tengah Kematian

Zarah Amala
Jumat, 24 Oktober 2025 / 3 Jumadilawal 1447 11:00
Jurnalis Al Jazeera Terus Jadi Sasaran di Gaza, Kamera Tetap Menyala di Tengah Kematian
Jurnalis Al Jazeera Terus Jadi Sasaran di Gaza, Kamera Tetap Menyala di Tengah Kematian

GAZA (Arrahmah.id) - Para jurnalis Al Jazeera di Jalur Gaza terus membayar harga yang sangat mahal untuk mendokumentasikan salah satu pembantaian terburuk dalam sejarah modern, di tengah pengeboman dan kehancuran yang tiada henti.

Bagian kedua dari program dokumenter “Al Jazeera bi Taqit Gaza” menyoroti lanjutan penderitaan dan kehilangan besar di kalangan kru jaringan tersebut, yang kini menjadi saksi sekaligus korban perang.

Mereka menghadapi serangan langsung dan sistematis dari pasukan pendudukan 'Israel', meski mengenakan rompi dan tanda pers pers resmi.

Tragedi bermula pada 6 Desember 2023, ketika reporter Mu’min al-Sharafi kehilangan 22 anggota keluarganya, termasuk orang tua dan saudara-saudaranya, dalam serangan udara Israel terhadap rumah keluarganya di Jabalia.

Rekan sejawatnya, Hisham Zaqout, mengaku kerap merasa seperti “utusan kematian”, karena sering kali harus memberitahu rekan-rekannya tentang tewasnya keluarga mereka sendiri saat siaran langsung.

Puncak tragedi terjadi pada 15 Desember 2023, ketika direktur kantor Al Jazeera di Gaza, Wael al-Dahdouh, dan kamerawan Samer Abu Daqa diserang dengan rudal langsung oleh militer 'Israel' di Khan Yunis, meskipun misi mereka telah dikoordinasikan sebelumnya dengan tentara 'Israel'. Abu Daqa gugur di tempat, sementara al-Dahdouh terluka parah di bahu dan kakinya, namun tetap berjalan di tengah reruntuhan untuk mencari pertolongan.

Usai serangan itu, al-Dahdouh diterbangkan ke Qatar untuk menjalani perawatan, sementara Mu’min al-Sharafi melanjutkan liputan dari Rumah Sakit Nasser.

Namun, serangan terhadap jurnalis Al Jazeera belum berhenti. Pada 26 Februari 2024, reporter Ismail Abu Omar dan kamerawan Ahmad Mattar menjadi korban serangan drone 'Israel', yang menyebabkan kaki Abu Omar diamputasi dan Mattar mengalami luka berat di kepala dan tubuhnya.

Kemudian pada 18 Maret 2024, pasukan 'Israel' menggerebek Kompleks Medis Al-Shifa dan menangkap reporter Ismail al-Ghoul, yang ditahan dan diinterogasi selama 12 jam dalam kondisi membeku. Setelah dibebaskan, ia mengetahui bahwa saudaranya, Khaled, tewas dalam pembantaian di rumah sakit tersebut.

Sebelum akhirnya gugur dalam tugas, al-Ghoul sempat menyatakan, “Meski ada ketakutan, kami tetap bersikeras menyampaikan pesan kami dari setiap jalan dan sudut Gaza.”

Sementara itu, al-Dahdouh menegaskan tekad yang sama: “Selama kami masih hidup, kami akan terus melanjutkan. Apa pun rasa sakit dan biayanya, kami tidak akan berhenti.” (zarahamala/arrahmah.id)