Memuat...

Krisis di Tubuh Militer “Israel”: Kaatz vs Zamir Memuncak, Netanyahu Turun Tangan

Samir Musa
Rabu, 26 November 2025 / 6 Jumadilakhir 1447 15:05
Krisis di Tubuh Militer “Israel”: Kaatz vs Zamir Memuncak, Netanyahu Turun Tangan
Keputusan Jenderal Zamir untuk menantang Menteri Pertahanan Kaatz membawa konsekuensi besar yang dapat berujung pada pemecatannya (Reuters – Arsip).

TEL AVIV (Arrahmah.id)  — Ketegangan  di tubuh institusi keamanan "Israel" kembali memuncak. Pada Selasa, juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membantah kabar yang menyebutkan rencana pemecatan Menteri Pertahanan Yisrael Kaatz dan penunjukan Gideon Sa’ar sebagai pengganti. Ia menegaskan laporan tersebut “tidak benar.”

Sebelumnya, harian Yisrael Hayom mengungkap bahwa Netanyahu sedang mempertimbangkan pencopotan Kaatz menyusul krisis yang melebar antara dirinya dan Netanyahu, terutama setelah ketegangan terbuka antara Kaatz dan Kepala Staf Iyál Zamir.

Akar Krisis: Gagal Cegah Serangan 7 Oktober

Konflik memanas setelah Kaatz pada Senin membekukan seluruh proses penunjukan jabatan tinggi dalam militer, sebagai protes atas keputusan Zamir yang sehari sebelumnya memecat sejumlah perwira senior tanpa berkonsultasi dengannya. Kebijakan ini berkaitan dengan kegagalan militer mencegah serangan 7 Oktober 2023.

Langkah Kaatz langsung dibalas Zamir dengan pernyataan keras, menuduh sang menteri telah “merusak keamanan negara”.

Media Ibrani melaporkan bahwa Netanyahu kemudian memanggil Kaatz dan Zamir dalam dua pertemuan terpisah pada Selasa malam, guna menenangkan situasi setelah perbedaan keduanya mencapai titik paling panas sejak publikasi temuan terkait kegagalan 7 Oktober.

Pertemuan Terpisah Setelah Kaatz Tolak Duduk Bersama Zamir

Menurut Yisrael Hayom, Netanyahu awalnya berencana mempertemukan keduanya dalam satu pertemuan. Namun rencana itu buyar setelah Kaatz menolak hadir dalam pertemuan tiga pihak. Akhirnya, Netanyahu menggelar dua pertemuan terpisah di markas Kementerian Pertahanan di Tel Aviv.

Channel 12 Ibrani menyebut penolakan Kaatz mengindikasikan konflik tersebut telah mencapai puncak konfrontasi, dengan saling tuding, pernyataan terbuka, hingga tegangnya hubungan di puncak institusi keamanan.

Dampak Krisis: Revisi Investigasi hingga Pembekuan Promosi 30 Hari

Kaatz menginstruksikan peninjauan ulang secara luas atas laporan investigasi yang dipimpin purnawirawan Jenderal Sami Turgeman terkait kegagalan 7 Oktober. Ia juga membekukan seluruh promosi jabatan tingkat tinggi selama 30 hari.

Dalam pernyataan kepada publik, Kaatz mengatakan bahwa ia “menghargai Kepala Staf, yang sepenuhnya memahami bahwa ia berada di bawah otoritas Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan pemerintah ‘Israel’.”

Namun Zamir menjawab dengan bahasa tegas: ia menyatakan bahwa mempertanyakan laporan setebal tujuh bulan yang disusun oleh 12 jenderal dan brigadir, serta telah ia serahkan langsung kepada Kaatz, adalah “sesuatu yang tidak dapat dipahami.”

Menurut Zamir, laporan tersebut disiapkan khusus untuk evaluasi internal militer, bukan untuk kepentingan politik.

Zamir Sadar Bisa Dipecat

Media publik Ibrani melaporkan bahwa Zamir memahami bahwa pernyataan terbukanya terhadap Kaatz bisa berujung pemecatan. Pada Ahad lalu, Zamir memecat sejumlah perwira senior terkait kegagalan perang 7 Oktober, termasuk mantan kepala intelijen militer Aharon Haliva, mantan komandan wilayah selatan Yaron Finkelman, dan mantan kepala divisi operasi Udi Bassiuk.

Keputusan tersebut bukan hanya pemecatan dari jabatan sebelumnya, tetapi juga penghentian total layanan cadangan militer mereka—sebuah langkah yang dinilai sebagai tindakan disipliner berat.

Menurut Yediot Aharonot, Kaatz mengetahui keputusan Zamir melalui media, bukan komunikasi internal.

Laporan Turgeman dan Beban Kegagalan 7 Oktober

Ketegangan terbaru ini pecah sekitar dua minggu setelah Zamir menerima laporan komprehensif dari Turgeman, mantan komandan wilayah selatan yang bertanggung jawab atas kawasan Gaza. Ia ditugaskan untuk memimpin tim investigasi tentang bagaimana serangan Thufan Al-Aqsha dapat menembus sistem keamanan “Israel”.

Pada 7 Oktober 2023, gerakan Hamas menyerang basis militer dan permukiman di sekitar Gaza, menewaskan dan menawan puluhan warga dan tentara “Israel” sebagai respons atas kejahatan pendudukan terhadap rakyat Palestina dan Al-Aqsha. Serangan tersebut dinilai pihak “Israel” sebagai kegagalan intelijen dan militer terbesar dalam sejarahnya.

Media Ibrani menilai krisis antara Kaatz dan Zamir kini menjadi ancaman serius terhadap stabilitas institusi keamanan, di tengah terus berlanjutnya perang dan tekanan politik yang semakin besar terhadap pemerintahan Netanyahu.

(Samirmusa/arrahmah.id)