GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah gencatan senjata yang seharusnya berlangsung, sejumlah tentara 'Israel' terus mengunggah konten kontroversial ke media sosial yang menunjukkan aksi penembakan dan pengakuan pelanggaran berat di Jalur Gaza. Berdasarkan pantauan di platform Instagram dan TikTok, para prajurit terlihat memamerkan keterampilan menembak, baik secara terarah maupun acak, yang sering kali berujung pada jatuhnya korban warga sipil Palestina.
Aktivis media sosial, Tamer, yang memantau akun-akun tentara pendudukan, mengungkapkan bahwa konten "pamer" ini menjadi rutinitas harian yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa baru. Hal ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober lalu. Meski militer 'Israel' secara resmi melarang prajuritnya mendokumentasikan operasi militer guna menghindari kritik hukum, video-video tersebut terus muncul dan mencerminkan adanya perasaan kebal hukum di kalangan personel militer.
Kehebohan besar juga dipicu oleh sebuah video yang melibatkan konten kreator AS, Jeff Davidson. Dalam video tersebut, seorang tentara 'Israel' dengan bangga mengaku telah menghancurkan rumah-rumah dan membunuh warga Palestina, termasuk anak-anak. Pengakuan tersebut bahkan meluas hingga tindakan asusila terhadap perempuan dan anak-anak, yang memicu gelombang kecaman global.
Organisasi hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch (HRW), dalam laporan tahunan 2025 menyebutkan bahwa 'Israel' melakukan kejahatan perang, pembersihan etnis, dan tindakan genosida dengan skala yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern kawasan tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa sejak dimulainya pelanggaran gencatan senjata pada 11 Oktober, tercatat 611 orang tewas dan 1.630 lainnya luka-luka. Secara total, sejak serangan Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 72.069 jiwa dengan lebih dari 171.728 orang terluka.
Kondisi ini membuat warga Gaza menyambut Ramadan tahun ini dalam keprihatinan mendalam di tengah infrastruktur yang hancur dan bantuan kemanusiaan yang masih sangat terbatas. (zarahamala/arrahmah.id)
