KABUL (Arrahmah.id) - Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam Afghanistan, mengonfirmasi dalam sebuah wawancara dengan Tolo News bahwa pesawat tanpa awak AS memasuki wilayah udara Afghanistan dengan melewati wilayah Pakistan.
Mujahid menyatakan bahwa sebagaimana Pakistan menuntut agar wilayah Afghanistan tidak digunakan untuk melawannya, perwakilan Imarah Islam telah meminta dalam perundingan di Istanbul agar Islamabad memastikan wilayah darat dan udaranya tidak digunakan untuk melawan Afghanistan.
Ia berkata: “Pesawat tanpa awak Amerika memang beroperasi di langit Afghanistan; mereka melewati wilayah udara Pakistan dan melanggar wilayah udara kami. Ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak berdaya di sini, mereka tidak dapat menghentikannya. Tentu saja, ini harus dilihat sebagai bentuk ketidakmampuan, dan kami memahami hal itu.”
Juru bicara tersebut juga menambahkan bahwa suatu faksi militer tertentu di Pakistan mungkin didukung oleh kekuatan global dengan tujuan meningkatkan ketegangan antara Kabul dan Islamabad, lansir Tolo News (2/11/2025).
Tanpa menyebut nama negara tertentu, ia mengatakan bahwa entitas-entitas tertentu, yang pernah berkonflik dengan Afghanistan atau berambisi menguasai Bagram, kini berupaya menciptakan ketidakstabilan regional melalui tekanan dan provokasi.
Mujahid menyatakan: “Kami menduga bahwa kekuatan-kekuatan global utama, mereka yang pernah berselisih dengan kami atau mengklaim Bagram, berada di balik tekanan ini. Mereka tidak datang secara langsung, tetapi mereka menugaskan pihak lain untuk memprovokasi kerusuhan di kawasan dan menciptakan dalih. Kami teguh menentang segala konspirasi dan tidak akan membiarkan ambisi sesat menjadi kenyataan di kawasan ini.”
Ia menekankan bahwa satu-satunya masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan antara Afghanistan dan Pakistan adalah masalah Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).
Menurutnya, Islamabad ingin Imarah Islam mengendalikan aktivitas TTP di Pakistan, tetapi permintaan ini berada di luar wewenang Kabul.
Mujahid menjelaskan: "Dalam pertemuan Doha dan Istanbul, tuntutan Pakistan adalah bahwa TTP merupakan masalah bagi mereka, dan Imarah Islam harus mengendalikannya. Kami telah menegaskan bahwa meskipun kami tidak mengizinkan TTP beroperasi melawan negara mana pun dari wilayah Afghanistan, Pakistan sekarang meminta kami untuk mengendalikan TTP di Pakistan yang berada di luar yurisdiksi kami."
Ia lebih lanjut menekankan bahwa, bertentangan dengan klaim pejabat Pakistan, TTP tidak beroperasi di bawah payung Imarah Islam dan justru merupakan produk dari kebijakan Pakistan sendiri di wilayah kesukuannya. (haninmazaya/arrahmah.id)
